playlist

Showing posts with label Sejarah dan Aliran Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Sejarah dan Aliran Psikologi. Show all posts

Saturday, 24 March 2018

ILMU JIWA DALAM PANDANGAN FILOSOF ISLAM



1.      Al-Kindi
            Jiwa kata al-Kindi adalah kesempurnaan pertama bagi jisim alami yang memiliki kehidupan secara potensial, dan mengatakan jiwa adalah kesempurnaan jisim alami yang organis yang menerima kehidupan.Artinya jiwa merupakan kesempurnaan esensial bagi jisim,yang tanpanya jisim tidak berfungsi sama sekali, jisim akan binasa jika telah ditinggalkan jiwa. Jadi, hakikat jiwa menurut al-Kindi adalah jauhar basith (tunggal, tidak tersusun, tidak panjang, dalam, dan lebar). Jiwa mempunyai wujud tersendiri, terpisah dan berbeda dengan jasad atau badan
            Argumen tentang berbedanya jiwa dengan badan, menurut al-Kindi adalah jiwa menentang keinginan hawa nafsu. Apabila nafsu marah mendorong manusia untuk melakukan kejahatan,maka jiwa menentangnya. Hal ini dapat dijadikan sebagai indikasi bahwa jiwa sebagai yang melarang tentu tidak sama dengan hawa nafsu sebagai yang dilarang.
            Al-Kindi ,dalam tulisanya juga, menjelaskan bahwa pada jiwa manusia terdapat tiga daya: daya bernafsu (al-Quwwat al-Syahwaniyyat) yang terdapat di perut, daya marah(al-Quwwat al-Ghadabiyyat) yang terdapat di dada, dan daya pikir (al-Quawwat al-Aqliyat) yang berpusat di kepala.
2.      Al - Farabi
            Jiwa manusia beserta materi asalnya  memancar dari Akal kesepuluh. Jiwa adalah jauhar rohani sebagai form bagi jasad. Kesatuan keduanya merupakan kesatuan secara accident, artinya masing-masing keduanya subtansi yang berbeda dan binasanya jasad tidak membawa binasa pada jiwa. Jiwa manusia disebut dengan al-nafs al-nathinqah, yang berasal dari alam Ilahi, sedangkan jasad berasal dari alam khalq, berbentuk, berupa, berkadar, dan bergerak. Begitu pula al-Farabi  mengemukakan bahwa manusia terdiri dari dua unsur yakni jasad dan jiwa. Jasad dari alam ciptaan sedangkan jiwa berasal dari alam perintah. 


            Bagi al-Farabi,jiwa manusia mempunyai daya - daya sebagai berikut:        
a.       Daya al-Muharrikat (gerak), yang mendorong untuk makan, memelihara, dan berkembang.
b.      Daya al-Mudrikat (mengetahui), yang mendorong untuk merasa dan berimajinasi.
c.       Daya al-Nathiqat (berpikir), yang mendorong untuk berpikir secara treoritis dan praktis.
Daya teoritis terdiri dari tiga tingakat yaitu:
a.       Akal Potensial (al-hayyulani), ialah akal yang baru mempunyai potensi berpikir dalam arti: melepaskan arti-arti dan bentuk-bentuk dari materinya.
b.      Akal Aktual (al-Alq-bi al-fi’il), akal yang telah dapat melepaskanarti-arti dari materinya,dan arti-arti itu telah mempunyai wujud dalam akal dengan sebenarnya,bukan lagi dalam bentuk potensial,tetapi telah dalam bentuk aktual.
c.       Akial Mustrafad (al-‘aql al-Mustafad), akal yang telah dapat menangkap bentuk semata-mata yang tidak di kaitkan dengan materi dan mempunyai kesanggupan untuk mengadakan komunikasi dengan akal kesepuluh.
            Tentang bahagia dan sengsaranya jiwa, Al-Farabi mengaitkan dengan filsafat Negara utamanya. Bagi jiwa yang hidup pada Negara utama, yakni jiwa yang kenal dengan Allah dan melaksanakan segala perintahnya, maka jiwa ini, akan kembali ke alam Nufus (alam kejiwaan) dan abadi dalam kebahagiaan. Jiwa yang hidup pada Negara Fasiqah, yakni jiwa yang kenal dengan Allah, tetapi ia tidak melaksanakan perintahnya, ia akan kembali ke alam Nufus (alam kejiwaan) dan abadi dalam kesengsara. Sementara itu jiwa yang hidup pada Negara jahilah, yakni jiwa yang tidak kenal dengan Allah dan tidak pula pernah melakukan perintahnya, ia lenyap bagaikan jiwa hewan.

      3.   Ibnu Sina
            Harus diakui bahwa keistimewaan pemikiran Ibnu Sina terletak pada filsafat jiwa yang mendefinisikan jiwa sebagimana Aristoteles mendefinisikan pada waktu sebelumnya. Menurut Ibnu Sina, jiwa adalah kesempurnaan awal, karena dengannya  spesies (jin) menjadi sempurna sehingga menjadi manusia nyata. Pengertian kesempurnaan menurut Ibnu Sina adalah sesuatu yang dengan keberadaanya tabiat jenis menjadi manusia.
            Ibnu Sina dan Aristoteles berbeda pandangan dalam memahami makna kesempurnaan. Aristoteles memahami kesempurnaan sebagai Potret. Ketika Aristoteles mendifinisikan jiwa sebagai suatu kesempurnaan awal bagi Tubuh Alami, maka yang dimaksudkan adalah potret bagi fisik Alami dan Prinsip perbuatanya yang dinamis. Sedangkan kesempurnaan kedua adalah sifat yang berkaitan dengan Manusia seperti pemahaman inderawi bagi manusia dan memotong bagi pedang.
Ibnu Sina membagi jiwa dalam tiga bagian :
a.       Jiwa tumbuhan dengan daya-daya: makan, tumbuh, berkembang biak.
b.      Jiwa binatang dengan daya-daya: gerak, menangkap, Indera bersama yang menerima segala apa yang ditangkap oleh panca indera.
c.       Jiwa manusia dengan daya-daya: Praktis yang hubungannya dengan badanTeoritis yang hubungannya adalah dengan hal-hal abstrak. Daya ini mempunyai tingkatan :
1)      Akal materil yang semata-mata mempunyai potensi untuk berfikir dan belum dilatih walau sedikit pun.
2)      Intelectual in habits, yang telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal-hal abstrak.
3)      Akal actuil, yang telah dapat berfikir tentang hal-hal abstrak.
4)      Akal mustafad yaitu akal yang telah sanggup berfikir tentang hal-hal abstrak dengan tak perlu pada daya upaya.
            Menurut Ibnu Sina jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir di dunia ini.
      4.   Al-Razi
            Jiwa universal merupakan al-Mabda al-Qadim al-Sany (sumber kekal yang kedua). Padanya terdapat daya hidup yang bergerak, sulit diketahui karena ia tampa rupa, tetapi karena ia dikuasai naluri untuk bersatu dengan al-hayula al-ula (materi pertama), terjadilah pada zatnya rupa yang dapat menerima fisik, Allah datang menolong roh dengan menciptakan alam semesta, termasuk tubuh manusia yang ditempati roh.
            Jiwa yang tidak dapat menyucikan dirinya dengan filsafat, ia akan tetap tinggal atau berkelana di dalam materi. Akan tetapi, apilah ia sudah bersih ia dapat kembali ke alam asalnya,saat itu alam hancur dan jiwa serta materi kembali kepada keadaanya semula.
            Kemudian tentang keterlibatan jiwa dalam mencari pengetahuan yang sempurna, hal itu  merupakan kenikmatan pada hari ini dan kebahagian pada hari yang akan datang (akhirat).ini disebabkan otoritas jiwa terhadap dunia jasadiah dikondisikan oleh hubungan jiwa dengan tubuh.mengenai kenyataan bahwa jiwa menerima manefestasi Murni (suci) dan pengetahuan Ilahiyah,ini tidak tergantung pada hubungan jiwa dengan tubuh. Hubungan ini sebagaimana fitrahnya,dapat menjadi suatu rintangan dalam mencapai kesempurnaan. Manakalah hubungan ini terputus maka Manifestasi Ilahiyah yang akan menjadi penerang. Oleh karena itu, bahwa perhatian terhadap suatu bidang yang lebih tinggi,bagi seorang pencari yang menerima Manefestasi Ilahiyah mengharuskan adanya kesempurnaan di hari ini (dunia) dan hari kemudian (akhirat).

      5.   Ibnu Miskawai
            Jiwa adalah jauhar rohani yang tidak hancur  dengan sebab kematian jasad. Ia adalah kesatuan yang tidak terbagi-bagi,ia tidak dapat diraba dengan panca indera karena ia bukan jisim dan bagian dari jisim. Jiwa dapat menangkap keberadaan zatnya dan ia argument yang dimajukanya ialah jiwa dapat menangkap bentuk sesuatu yang berlawanan dalam waktu yang bersamaan,seperti warna hitam dan putih, sedangkan badan tidak dapat  demikian.
            Pendapat yang terakhir di atas, dimaksudkan Ibnu Miskawaih untuk mematahkan pandangan kaum materialis yang meniadakan jiwa bagi manusia. Ternyata Ibnu  Miskawaih berhasil membuktikan adanya pada diri manusia dengan argumen seperti di atas. Namun, jiwa tidak dapat bermateri, sekalipun ia bertempat pada materi, karena materi hanya menerima satu bentuk dalam waktu tertentu. Jadi, Ibnu Miskawih mensinyalkan bahwa jiwa yang tidak dapat di bagi-bagi itu tidak mempunyai unsur, sedangkan unsur-unsur hanya terdapat pada materi. Namun demikian, jiwa dapat menyerap mareri yang kompleks dan nonmateri yang sederhana.





6.   Ikwan Al-Shafa’

            Seperti halnya Al-Kindi, Ar-Razi, dan Al-Farabi, Ikhwan Ash Shafa’ memandang manusia terdiri dari dua unsur, yaitu jiwa yang bersifat materi, dan tubuh yang merupakan campuran dari tanah, air, udara, dan Api. Dalam tulisan mereka dikatakan bahwa masuknya jiwa kedalam tubuh merupakan hukuman kepada jiwa yang telah melakukan pelanggaran (kisah Adam a.s dan pasanganya, Hawa). Sehingga, jiwa di usir dari surga yakni alam rohani dan harus turun ke bumi, masuk ke dalam tubuh[16].
            Jiwa  manusia bersumber dari jiwa universal. Dalam perkembanganya jiwa manusia banyak dipengaruhi materi yang mengitarinya. Agar jiwa tidak kecewa dalam perkembanganya, maka di bantu oleh akal yang merupakan daya bagi jiwa untuk berkembang[17].
      7.   Al-Ghazali
            Manusia menurut Al-Gazali  diciptakan Allah sebagai makhluk yang terdiri dari jiwa dan jasad. Jiwa yang menjadi inti hakikat manusia adalah makahluk spuiritual rabbania yang sangat halaus (latifah rabbaniyah). Istilah- istilah yang digunakn Al-Ghazali untuk itu adalah qalb, ruh, nafs dan ‘aql[18].
      8.   Ibnu Bajjah
            Setiap manusia mempunyai satu jiwa. Jiwa ini tidak mengalami perubahan sebagaiman jasmani. Jiwa adalah penggerak bagi manusia. Jiwa digerakkan dengan dua jenis alat: alat-alat jasmani dan alat-alat rohani. Alat-alat jasmani diantaranya ada berupa berupa buatan dan ada pula yang merupakan alamiah seperti kaki dantangan. Alat-alat alamiah ini lebih dahulu daria alat buatan,yang diserbut juga oleh Ibnu Bajjah dengan pendorong naluri( al-harr al-gaharisa atau roh insting. Ia terdapat pada setiap makhluk yang berdara[19].
      9.   Ibnu Thufail
            Jiwa manusia, menurut Ibnu Thufail adalah makhluk yang tertinggal martabatnya. Manusia terdiri dari dua unsur, yakni jasad dan roh (al-madat wa al-ruh). Badan tersusun atas unsur-unsur, sedangkan jiwa tidak tersusun jiwa bukan jizim dan bukan pula suatu daya yang ada di jalan jisim. Setelah badan hancur atau mengalami kematian, jiwa lepas dari badan, dan jiwa yang pernah mengenal Allah selama berada dalam jasad akan hidup dan kekal.
      10. Ibnu Rusyd
            Ibnu Rusyd mencoba menggambarkan kebangkitan rohani dengan analog tidur. Sebagaimana tidur, jiwa tetap hidup, begitu pula ketika manusia mati, badan hancur, jiwa tetap hidup dan jiwalah yang akan dibangkitkan. Kutipan lengkap sebagi berikut:

“…perbandingan antara kematian dan tidur dalam masalah  ini adalah bukti yang terang bahwa jiwa itu hidup terus karena aktivitas dari jiwa bekerja pada saat tidur denga cara membuat tidak bekerja organ-organ tubuhnya,tetapi keberadaan atau kehidupan jiwa tidaklah terhenti  maka sudah semestinya keadaanya pada saat kematian  akan sama dengan keadaabnya pada saat tidur ….dan bukti inilah  yang dapat dipahami oleh seluruh orang  dan yang cocok untuk diyakini oleh orang banyak atau orang awam, dan akan menunjukkan jalan bagi orang-orang yang terpelajar  yang keberlangsunganya hidup dari pada pada ujiwa itu adalah satu hal yang pasti. Dan hal ini pun terang gambling dari firman Tuhan,’Tuhan mengambil jiwa – jiwa pada saat kematiannya untu kembali kepada-Nya; dan jiwa-jiwa orang yangbelum mati pada saat tidur mereka[20].














SUMBER :


Sunday, 10 September 2017

ALFRED BINET: MEASURING INTELLIGENCE

Resume
ALFRED BINET: MEASURING INTELLIGENCE
Alfred Binet
(1857-1911)

            Alfred Binet lahir di Nice pada tanggal 8 Juli 1857 (Perancis) dan meninggal di Paris pada tanggal 18 Oktober 1911. Orang tua dan nenek moyang beliau dari keturunan yang mayoritas berprofesi dokter. Namun, ibu beliau berprofesi sebagai pelukis sehingga jiwa seni dari ibunya turun ke beliau dan menghasilkan aspek psikologi dari tulisan dan seni. Beliau belajar bidang hukum di Lycee, Nice, dan LycĂ©e Louis le Grand di Paris hingga memperoleh gelar diploma dan lisensiat. Tahun 1877 Binet bertemu Ribot, seorang psikolog Perancis yang turut menentukan kehidupan psikologi di Perancis. Atas anjuran Ribot maka Beliau mulai mempelajari psikologi, khususnya psikopatologi yang sudah lama hidup di Perancis. Beliau dikenal sebagai seorang psikolog dan juga pengacara (ahli hukum).
            Pada 1890-an, Kementrian Pendidikan Paris dihadapkan dengan masalah yang sulit. Mereka ingin memberikan pendidikan yang luas kepada semua “intelligence” dan lebih praktis, kurangnya akademik sekolah untuk anak-anak yang kurang cerdas. Mereka ingin bersikap adil tentang memilih anak-anak yang akan diberikan pelatihan akademis terdepan, tetapi mereka juga ingin membuat keputusan ketika anak-anak cukup muda. Bagaimana mereka bisa “mengukur” sesuatu yang sangat tidak berwujud sebagai kecerdasan anak?
            Kementrian Pendidikan meminta saran kepada profesor di Universitas Sorbonne yang baru saja mendirikan laboratorium psikologi pertama Perancis. Minat Alfred Binet berbeda dari para psikolog awal lainnya. Daripada mengukur struktur pikiran atau fungsi, Binet berusaha untuk mengukur kapasitas intelektualnya. Dari bereksperimen dengan sejumlah item tes, Binet dan rekan-rekannya mampu menemukan setelan pertanyaan (misalnya persoalan aritmetika, definisi kata, tugas memori/mengingat) yang bisa dijawab oleh anak-muda atau anak-anak dengan subnormal intelligence. Pertanyaan-pertanyaan ini digunakan untuk menciptakan sebuah intelligence test yang kemudian direvisi dan diterjemahkan di Amerika untuk dapat digunakan, hingga penggunaan Skala Intelegensia Stanford-Binet dikenal secara luas. Bagi Alfred Binet, tes ini adalah jantung dari definisinya tentang psikologi sebagai ilmu yang mengukur pikiran untuk tujuan praktis. Dengan demikian, ia memberikan dorongan untuk cabang psikologi yang mengkhususkan diri dalam measurement of intelligence, personality, job aptitude, dan sebagainya.
            Tes yang dikembangkan oleh Binet merupakan tes intelegensi pertama, meskipun kemudian konsep usia mental mengalami revisi sebanyak 2 kali sebelum dijadikan dasar dalam test IQ. Pada tahun 1914, tiga tahun setelah beliau wafat, seorang psikolog Jerman, William Stern, mengusulkan bahwa dengan membagi usia mental anak (the mental age atau MA) dengan usia kronologis (Chronological Age atau CA), maka akan lebih memudahkan untuk memahami apa yang dimaksud "Intelligence Quotient". Rumus ini kemudian direvisi oleh Lewis Terman, dari Stanford University, yang mengembangkan tes untuk orang-orang Amerika. Lewis mengalikan formula yang dikembangkan Stern dengan angka 100. Perhitungan statistik inilah yang kemudian menjadi definisi atau rumus untuk menentukan intelegensi seseorang: IQ=MA/CA*100. Tes IQ inilah yang dikemudian hari dinamai Stanford-Binet Intelligence Test.





Referensi:
Lahey, Benjamin B, Psychology an Introduction, second edition, United State of America: Wm. C. Brown Publisher, 1986.
11018rika.blogspot.co.id/2012/03/inteligensi-menurut-alfred-binet.html diakses pada 12/12/2016

Thursday, 25 May 2017

REVIEW PERSPEKTIF HUMANISTIK DAN SOSIO-KULTURAL




PERSPEKTIF HUMANISTIK

Hasil gambar untuk carl rogers
Carl Rogers
(1902-1987)
Hasil gambar untuk abraham maslow
Abraham Maslow
(1908-1970)

                                                                                                                                                                   
Gambar terkait
Viktor Frankl
(1905-1997)
Selama tahun 1950 dan 1960-an, gerakan teoritis penting ketiga muncul dalam psikologi sering dikenal sebagai "kekuatan ketiga" dalam psikologi. Dipimpin oleh almarhum Carl Rogers, Abraham Maslow, dan Victor Frankl, psikologi humanistik melukiskan gambaran yang sangat berbeda tentang manusia, baik dari psikoanalisis ataupun behaviorisme. Alih-alih menjadi seorang makhluk yang didorong oleh motif bawah sadar mereka (seperti yang Freud katakan) atau secara pasif dibentuk oleh pengalaman belajar mereka (sebagai Waston katakan), manusia menentukan nasib mereka sendiri melalui keputusan yang mereka buat. Dalam hal ini, orang memiliki kecenderungan bawaan kuat untuk tumbuh, untuk improve, dan untuk mengendalikan kehidupan mereka sendiri. Meskipun manusia dapat dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan luar, tidak ada yang menentukan perilaku mereka selain kehendak bebas mereka sendiri yang menentukan.
            Psikologi humanistik adalah yang paling tidak ilmiah dari semua psikolog. Ini bukan berarti mengatakan bahwa psikolog humanistik tidak pernah menggunakan metode ilmiah. Hanya saja banyak masalah yang mereka khawatirkan akan sulit diselidiki secara ilmiah. Topik seperti kehendak bebas, nilai-nilai, kebaikan penting dari orang, motif yang merangsang penciptaan seni dan filsafat, dan keunikan masing-masing kepribadian manusia adalah yang terpenting bagi psikolog humanistik, tapi masalah ini sifatnya lebih filosofis daripada ilmiah. Di sisi lain, psikolog humanistik terkemuka seperti Carl Rogers sangat tertarik pada metode psikoterapi dan telah melakukan banyak penelitian mengevaluasi pendekatannya dan Abraham Maslow pun menyatakan bahwa manusia masing-masing memiliki kekuatan bawaan ke arah aktualisasi diri yang mencapai satu potensi diri.
            Fokus humanisme pada aktualisasi diri dan pertumbuhan juga terlihat dalam gerakan psikologi positif, yang menekankan studi tentang kekuatan manusia, pemenuhan, dan hidup yang optimal (Snyder dan Lopez 2007). Berbeda dengan fokus lama psikologi tentang “apa yang salah dengan dunia kita” (misalnya, gangguan mental, konflik, prasangka), psikologi positif meneliti bagaimana kita bisa memelihara apa yang terbaik dalam diri kita sendiri dan masyarakat untuk menciptakan kehidupan yang bahagia dan memuaskan.  

PERSPEKTIF SOSIO-KULTURAL
THE SOCIO-CULTURAL: THE EMBEDDED HUMAN
Manusia adalah makhluk sosial. Tertanam dalam budaya, masing-masing dari kita pernah menghadapi perubahan pengaturan sosial yang membentuk tindakan kita dan nilai-nilai, rasa identitas diri, sangat konsepsi kita tentang realitas. Perspektif sosial budaya meneliti bagaimana lingkungan sosial dan pembelajaran budaya mempengaruhi perilaku kita, pikiran, dan perasaan.
Belajar Budaya dan Keanekaragaman
Budaya mengacu pada nilai-nilai abadi, keyakinan, perilaku, dan tradisi yang dimiliki oleh sekelompok besar orang dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Semua kelompok budaya mengembangkan norma-norma sosial mereka sendiri, aturan (sering tidak tertulis) yang menentukan apa perilaku yang dapat diterima dan diharapkan untuk anggota kelompok itu. Norma yang ada untuk semua jenis perilaku sosial, seperti cara berpakaian, menanggapi orang dari status yang lebih tinggi, atau bertindak sebagai wanita atau pria. Agar budaya bisa bertahan, setiap generasi baru harus menginternalisasi, atau mengadopsi, norma-norma dan nilai-nilai kelompok sebagai milik mereka. Sosialisasi adalah proses dimana budaya ditularkan kepada anggota baru dan diinternalisasi oleh mereka.
Psikolog telah lama mengakui dampak budaya dalam membentuk siapa diri kita (Miller & Dollard, 1941). Namun, meski mengakui pentingnya budaya ini, banyak penelitian psikologis abad ke-20 sebagian besar diabaikan kelompok non-Barat. Seperti lintas-budaya biasanya dibiarkan antropolog. Bahkan dalam masyarakat Barat, untuk peserta dekade dalam penelitian psikologis biasanya typically White dan datang dari latar belakang menengah-kelas atas. Situasi ini sangat umum pada tahun 1976, psikolog Afrika Amerika, Robert Guthrie menerbitkan sebuah buku berjudul Even the Rat was White: A Historical View of Psychology. Ada pengecualian penting, namun, seperti penelitian oleh Kenneth Clark (1914-2005) dan Mamie Clark (1917-1983) dan lain-lain, meneliti bagaimana diskriminasi dan prasangka mempengaruhi perkembangan kepribadian anak-anak Amerika Afrika (Clark & Clark, 1947).
Seiring waktu, psikolog mulai belajar kelompok etnis dan budaya yang beragam. Hari ini tumbuh psikologi budaya (kadang-kadang disebut psikologi lintas-budaya) mengeksplorasi bagaimana budaya ditularkan kepada anggotanya dan meneliti kesamaan psikologis dan perbedaan antara orang-orang dari beragam budaya (Varela et al.,2007) .
Salah satu perbedaan penting antara budaya adalah sejauh mana mereka menekankan individualisme vs kolektivisme (Triandis & Suh, 2002). Kebudayaan yang paling maju dari Eropa Utara dan Amerika Utara mempromosikan individualisme, penekanan pada tujuan pribadi dan identitas diri terutama didasarkan pada atribut dan prestasi sendiri. Sebaliknya, banyak budaya di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan membina kolektivisme, di mana tujuan individu tunduk kepada orang-orang dari kelompok dan identitas pribadi didefinisikan terutama oleh ikatan yang mengikat satu ke keluarga dan kelompok sosial lainnya. Perbedaan ini dibuat oleh pengalaman pembelajaran sosial yang dimulai di masa-masa kecil dan terus menerus dalam bentuk kebiasaan sosial. Di sekolah, misalnya, anak-anak Jepang lebih sering bekerja dalam kelompok pada tugas umum, sedangkan anak-anak Amerika lebih sering bekerja sendiri pada tugas individu.

Berpikir tentang kesepian tahun pertama Ray di perguruan tinggi, perspektif sosial budaya menuntun kita untuk bertanya bagaimana pendidikan budaya dan faktor sosial lainnya berkontribusi terhadap perilaku pemalu. Sepanjang tahun remaja, norma-norma budaya untuk ketegasan laki-laki mungkin telah memberikan tekanan pada Ray. Rasa malu mungkin telah menimbulkan gangguan dan reaksi negatif lainnya dari rekan-rekan SMA-nya, meningkatkan perasaan tidak mampu pada saat ia mencapai perguruan tinggi. Adapun hubungan Ray dan Kira, kita mungkin akan meneliti bagaimana norma-norma tentang pacaran dan pernikahan berbeda antar budaya.

referensi:
Passer, Michael W, dan Ronald E. Smith, Psychology The Science of Mind and 
                 Behaviour, fourth edition, New York:Mc Graw-Hill, 2008.
Lahey, Benjamin B, Psychology an Introduction, second edition, United State of America: Wm. C. Brown Publisher, 1986.





Review ini disusun oleh Tata Puspita :)

Sunday, 9 April 2017

sekilas resume: Ruang lingkup psikologi dan kerangka level analisis

Ruang lingkup psikologi dan kerangka level analisis
Lingkup dari psikologi modern merupakan pengembangan dari ilmu biologi yang dikhususkan kepada manusia. Psikologi mempelajari dan merangkai faktor-faktor untuk memahami apa yang dilakukan manusia, berfikir dan merasakan seperti apa yang mereka rasa. Hal ini disebut level analisis dari: sikap dan apa yg mempengaruhinya dapat dijelaskan menggunakan level biologi, level psikologi, dan level lingkungan.
Contoh singkatnya adalah aktivitas makan sehari-hari. Pada level analisis biologi proses yang terjadi pada otak yaitu merespon sinyal tubuh ketika lapar bmaupun kenyang. Pada level analisis psikologi yaitu mood, jenis makanan, dan motif lah yang mempengaruhi keinginan makan. Level analisis lingkungan pada kasus makan ini dipengaruhi oleh aroma makanan itu sendiri.

Pikiran dan Tubuh serta memelihara interaksi alami
Kita harus fokus pada pikiran positif ketika menghadapi situasi yang menantang dan tetap menjada semangat/gairah tubuh. Hal ini dikarenakan jika kita berfikir hal negatif akan mempengaruhi kita kepada kondisi stres. Interaksi pikiran dan tubuh berfokus pada perhatian kita ketika terdapat hubungan menarik antara level psikologi dan biologi analisis.
Ruang lingkup level analisis juga dipengaruhi isu yang diperdebatkan karena merupakan hal unik. Seperti kasus sikap kita lebih dominan dipengaruhi nature (pengaruh biologi) atau nurture (pengaruh liongkungan). Namun saat ini pertumbuhan budaya dan kemajuan genetika serta otak melalui penelitian menyatakan bahwa nature-nurture lebih berada dalam posisi seimbang.

Kasus yang terjadi pada manusia dan tikus merupakan salah satu contoh perbedaan terhadap bayi yang baru lahir secara berkelanjutan melalui kontak fisik. Hal ini tentu saja dapat mempengaruhi fungsi otak dan perkembangan biologis. Singkatnya Sebagai level analisis, nature, nurture, dan faktor-faktor psikologi harus dijadikan satu kesatuan dalam memahami suatu sikap.

Sumber: Passer, Michael W, dan Ronald E. Smith, Psychology The Science of Mind and Behaviour, fourth edition, New York:Mc Graw-Hill, 2008.

Friday, 31 March 2017

Sigmund Freud : Biografi dan review psikoanalisis



BIOGRAFI
Hasil gambar untuk sigmund freud
Sigmund Freud lahir pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia, Austria–Hongaria, sekarang Republik Ceko. Ia adalah pionir cikal bakal psikoanalisa. Saat ia berumur empat tahun keluarganya pindah ke Wina dan di situlah dia menghabiskan hampir seluruh hidupnya. Freud meraih gelar sarjana kedokteran dari Universitas Wina tahun 1881. Selama sepuluh tahun berikutnya dia melakukan penyelidikan mendalam di bidang psikologi, membentuk staf klinik psikiatri, melakukan praktek pribadi di bidang neurologi, bekerja di Paris bersama neurolog Perancis kenamaan Jean Charcot dan juga bersama dokter Josef Breuer asal Wina.
Gagasan Freud di bidang psikologi berkembang tingkat demi tingkat. Pada tahun 1895, bekerja sama dengan Breuer ia merilis buku pertamanya yakni Penyelidikan tentang Histeria. Buku berikutnya Tafsir Mimpi terbit tahun 1900. Buku ini merupakan salah satu karyanya yang paling orisinal dan sekaligus paling penting, meski pada awalnya penjualan buku ini lesu, namun mampu membuat namanya terkenal.
Di tahun 1902 dia mengorganisir kelompok diskusi masalah psikologi di Wina. Salah seorang anggota pertama yang menggabungkan diri adalah Alfred Adler, dan beberapa tahun kemudian ikut pula Carl Jung. Kedua orang itu akhirnya menjadi ahli ilmu psikologi. Pada tahun 1908 tatkala Freud memberi serangkaian ceramah di Amerika Serikat, Freud sudah jadi orang yang terkenal.
Pada saat-saat akhir hidupnya dia terkena kanker pada tulang rahangnya dan sejak tahun 1923 dia mengalami pembedahan lebih dari tiga puluh kali dalam rangka memulihkan kondisinya. Meski begitu, dia tetap bekerja dan menghasilkan beberapa karya penting. Di tahun 1938 saat Nazi menduduki Austria, Sigmund Freud yang sudah berusia 82 tahun dipaksa pergi ke London, setahun kemudian ia meninggal dunia dengan meninggalkan seorang istri dan enam orang anak.
Karya-karya Freud
Sigmund Freud sepanjang hidupnya turut mendedikasikan diri untuk melahirkan beberapa karya besar. Karya-karya tersebut juga menggambarkan pembabakan perkembangan pemikiran Freud sebagai sebuah dinamika. Beberapa karya Freud, yaitu:
The Interpretation of dreams (1900),
The Psichopathology of Everiday Life (1901),
General Introductory Lectures on Psichoanalysis (1917),
New Introductory Lectures on Psichoanalysis (1933), dan
 An Outline of Psichoanalysis (1940).



REVIEW
Sigmund Freud : Psikoanalisis
Sigmund Freud adalah Seorang dokter Austria dibidang neutrologi yaitu yang mengobati penyakit-penyakit di bagian system syaraf.. Tidak seperti para psikolog lain dia bukanlah seorang filsuf sehingga dia tidak diijinkan untuk melakukan penelitian, disisi lain dia bertanggung jawab atas kesembuhan pasiennya yang diantaranya memiliki masalah psikologikal. Dari fakta inilah menjelaskan bahwa adanya perbedaan besar antara pandangan tentang psikologi dari para penemu lainnya. Bagi Freud, topik yang terpenting dari psikologi adalah motivasi abnormal karena dia melihat penyebab dari masalah psikologi. Learning, memory, thinking, dan proses lainnya sangat penting sehingga menarik perhatian Freud.
Selain itu, Freud percaya bahwa pengalaman kesadaran itu lebih penting daripada latar belakang pikiran bawah sadar. Freud merasa bahwa akar masalah psikologi berawal dari motif, terutama seksualitas dan agresifitas yang berada di dalam ketidaksadaran pikiran kita. Dia percaya bahwa motif ketidaksadaran dan konflik yang mengelilingi mereka mempengaruhi kita meskipun kita tidak menyadari keberadaan mereka. Freud berusaha untuk membantu masalah psikologi seseorang melalui proses psikoanalisis, yaitu analisis internal yang terutama berhubungan dengan kekuatan-kekuatan psikologi.
Dalam hubungannya pada aktivitas untuk menanggapi suatu permasalahan kita tidak bisa terlepas dengan 3 konsep yang diajukan oleh  Sigmund Freud dengan teori psikoanalitiknya seperti konsepsi id, ego, dan super ego. Yang mana konsepsi id menerangkan kecepatan respon yang secara tidak sadar dilakukan oleh karena munculnya suatu permasalahan tertentu, Konsepsi ego harus diikuti proses pemikiran terlebih dahulu sebelum bertindak, dan konsepsi super ego menyiratkan kita akan pentingnya harmonisasi antara tindakan yang dilakukan dengan norma atau kebiasaan yang ada.



Referensi:
Lahey, Benjamin B, Psychology an Introduction, second edition, United State of America: Wm. C. Brown Publisher, 1986.

Tuesday, 28 March 2017

Biografi William James dan Review Fungsi-Fungsi Kesadaran



BIOGRAFI WILLIAM JAMES
Hasil gambar untuk william James
William James adalah seorang filsuf dari Amerika Serikat, yang terkenal sebagai salah seorang pendiri Mazhab Pragmatisme. Selain sebagai filsuf, James juga terkenal sebagai seorang psikolog. Ia memiliki anak bernama Henry James, orang tua William James bernama Henry James Sr. dan Mary Robertson Walsh. Ia juga memiliki saudara kandung yaitu Henry James, Alice James, Garth Wilkinson James, dan Robertson James. Pendidikan yang pernah ditempuh olehnya yakni Harvard Medical School (1864–1869), John A. Paulson School of Engineering and Applied Sciences.
William James lahir pada tanggal 11 januari 1842 di New York city, Amerika. Ayahnya adalah seorang kaya raya yang mandiri, juga seorang penulis masalah-masalah teologis. James dapat belajar bahasa perancis dan jerman. Pada tahun  1864, ia sangat tertarik pada seni, tetapi sains menang dan ia masuk  Harvard Medical School dengan mendapatkan gelar M.D pada tahun 1869. Pada tahun 1872 ia menjadi seorang guru psikologi di Harvard. Dorongan dan pluralisme dari komunitas akademik ini terbukti menjadi latar belakang dari James. Disamping ia tertarik memperhatikan struktur tubuh, ia terpukau dengan persoalan struktur pikiran dan emosi manusia dengan berbagai variasi pengalaman manusia.
Pada tahun 1875, ia mengajar kursus psikologi, dan ia mulai memberikan kursus filsafat di Harvard, tentang esai-esai yang mengenai perdebatan determinisme-kebebasan, sifat rasionalisme, dan kesesuaian antara sains dan agama pada tahun 1880-an. James mengajar di Universitas Havard untuk bidang anatomi, fisiologi, psikologi dan filsafat, hingga tahun 1907. Ia meninggal pada 26 Agustus 1910 pada usia 68 tahun di Tamwort,New Hampsire, Amerika Serikat.
REVIEW
William James: Fungsi-Fungsi Kesadaran
 Pada tahun 1875 seorang profesor muda biologi dan filsafat di Harvard University bernama William James mengajar kursus pertama "psikologi”. Pada tahun 1890 ia menerbitkan sebuah buku awal berpengaruh psikologi. Seperti Wundt, James meminjam konsep-konsep dan metode ilmiah dari biologi untuk digunakan dalam studi kesadaran, namun James mengambil pandangan yang sangat berbeda tentang psikologi dari pandangan Wundt dan Titchener.
James terkesan dengan karya ahli biologi Charles Darwin, yang dinyatakan dalam teori evolusi bahwa setiap karakteristik fisik berkembang dalam spesies karena melayani beberapa tujuan. James menduga bahwa hal yang sama bisa dikatakan tentang pikiran manusia. Ia berspekulasi bahwa berpikir, perasaan, belajar, mengingat, dan proses lainnya dari kesadaran manusia hanya ada karena mereka membantu kita bertahan hidup sebagai suatu spesies. Maka dari itu kita dapat berpikir, misalnya, kita lebih mampu menemukan makanan, menghindari bahaya, dan merawat anak-anak kita yang semuanya membantu spesies manusia bertahan hidup. Karena penekanannya pada fungsi kesadaran, sebuah sekolah pemikiran yang dikenal sebagai fungsionalisme muncul berdasarkan pada karya William James.
Intinya, dasar penelitian antara Wundt, Titchener, dan James sama yaitu sensasi, persepsi, dan pengalaman. Tetapi, James menyatakan bahwa otak dan jiwa manusia berubah secara konstant. Aliran ini melihat how dan why dari sebuah perilaku dengan mencari data dengan menggunakan metode observasi. Fokus dari aliran ini adalah melihat bagaimana perilaku membantu manusia dalam hidup di lingkungannya, karena James terinspirasi dari teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin. Menurut Carol dan Tavris (2010), William James menyebutkan kesadaran manusia seperti sungai kesadaran. Menurut James, hal ini diungkapkan kesadaran manusia terbentuk mirip seperti sungai yang mempunyai ombak, alur, yang berbeda–beda. Sehingga hal ini menunjukkan proses mental manusia yang berbeda–beda.
Sama seperti aliran strukturalisme, aliran ini tidak mempunyai umur yang terlalu panjang. Tetapi, kontribusi aliran ini terhadap ilmu psikologi mempunyai sumbangsih yang besar, terlebih sosok William James itu sendiri. Buku yang diterbitkan oleh James pada saat itu dijadikan sebagai acuan untuk mempelajari ilmu psikologi di Amerika pada saat itu. Sehingga, perkembangan ilmu psikologi di Amerika berkembang bermula dari buku yang diterbitkan oleh William James. Apalagi, William James merupakan orang yang kharismatik dan gaya menulisnya yang unik dalam literature psikologi yang ia tulis, membuat banyak orang tertarik untuk mengetahui ilmu psikologi lebih jauh.


Disusun oleh: Agasari Puspita


Sumber :
Lahey, Benjamin B, Psychology an Introduction, second edition, United State of America: Wm. C. Brown Publisher, 1986.

Wednesday, 22 March 2017

Pemikiran Wundt dan Titchener - Strukturalisme



AKAR INTELEKTUAL PSIKOLOGI

Manusia memerlukan waktu yang lama untuk memahami diri mereka sendiri, dan di pusat pencarian ini terletak sebuah isu yang telah diuji pikiran terbaik dari usia, yang disebut masalah pikiran-tubuh. Apakah pikiran-agen kesadaran batin dan pikiran-entitas spiritual terpisah dari tubuh, atau itu bagian dari aktivitas tubuh?

Banyak filsuf awal memegang posisi dualisme pikiran-tubuh, keyakinan bahwa pikiran adalah entitas spiritual tidak tunduk pada hukum-hukum fisika yang mengatur tubuh. Tetapi jika pikiran tidak terdiri dari materi fisik, bagaimana bisa menyadari sensasi tubuh, dan bagaimana bisa pikiran yang mengerahkan kendali atas fungsi tubuh? filsuf Perancis, matematikawan, dan ilmuwan René Descartes (1596-1650) mengusulkan bahwa pikiran dan tubuh berinteraksi melalui kelenjar pineal kecil di otak. Meskipun Descartes ditempatkan pikiran dalam otak, ia menyatakan bahwa pikiran adalah spiritual, entitas nonmaterial. Dualisme menyiratkan bahwa tidak ada jumlah penelitian tentang tubuh fisik (termasuk otak) pernah bisa berharap untuk mengungkap misteri dari pikiran.

Pandangan alternatif, monisme (dari monos kata Yunani, yang berarti "satu"), menyatakan bahwa pikiran dan tubuh adalah satu dan bahwa pikiran bukanlah entitas spiritual yang terpisah. Untuk monis, peristiwa mental hanya produk dari peristiwa fisik di otak, posisi yang dianjurkan oleh filsuf Inggris Thomas Hobbes (1588-1679). Monisme membantu mengatur panggung untuk psikologi karena tersirat bahwa pikiran dapat dipelajari dengan mengukur proses fisik dalam otak. Panggung lanjut ditetapkan oleh John Locke (1632-1704) dan filsuf lainnya dari sekolah empirisme Inggris, yang menyatakan bahwa semua ide dan pengetahuan yang diperoleh secara empiris-yaitu, melalui indera. Menurut empiris, observasi adalah pendekatan yang lebih valid untuk pengetahuan dari alasan, karena alasan penuh dengan potensi kesalahan. Ide ini didukung perkembangan ilmu pengetahuan modern, yang berakar pada metode pengamatan empiris.

Penemuan dalam fisiologi (area biologi yang meneliti fungsi tubuh) dan obat-obatan juga membuka jalan bagi munculnya psikologi. Pada 1870, peneliti Eropa elektrik merangsang otak hewan laboratorium dan pemetaan daerah permukaan yang dikendalikan berbagai gerakan tubuh. Selama periode yang sama, laporan medis terkait kerusakan di berbagai 
wilayah otak pasien dengan berbagai gangguan perilaku dan mental. Misalnya, kerusakan daerah tertentu di sisi kiri otak terganggu kemampuan orang untuk berbicara dengan lancar. makin banyak bukti tentang hubungan antara otak dan perilaku mendukung pandangan bahwa metode empiris dari ilmu alam juga bisa digunakan untuk mempelajari proses mental.

Memang, pada pertengahan 1800-an, ilmuwan Jerman yang mengukur respon sensorik masyarakat terhadap berbagai jenis rangsangan fisik (misalnya, bagaimana kenyaringan yang dirasakan dari perubahan suara sebagai intensitas meningkat fisiknya). percobaan mereka mendirikan lapangan baru disebut psychophysics, studi tentang bagaimana psikologis sensasi berpengalaman tergantung pada karakteristik rangsangan fisik. Sekitar waktu ini, (1809-1882) Teori Charles Darwin tentang evolusi yang dihasilkan gelombang kejut yang masih dirasakan hari ini. Teorinya, yang akan kita bahas nanti, itu penuh semangat menentang karena tampaknya bertentangan dengan keyakinan filosofis dan agama tentang sifat mulia manusia. Evolusi tersirat bahwa pikiran manusia bukanlah entitas spiritual melainkan produk dari kesinambungan biologis antara manusia dan spesies lainnya. Selain itu, teori Darwin tersirat bahwa para ilmuwan mungkin mendapatkan wawasan tentang perilaku manusia dengan mempelajari spesies lain. Pada 1800-an, konvergensi kekuatan intelektual memberikan dorongan untuk kelahiran psikologi.


BIOGRAFI WILHELM WUNDT
Hasil gambar untuk wilhelm wundt
Wilhelm Maximilian Wundt adalah seorang dokter, filsuf, ahli hukum, psikolog, fisiolog, dan profesor, yang sekarang dikenal sebagai penemu psikologi modern (Bapak Psikologi). Ia dianggap sebagai "bapak psikologi eksperimental". Lahir pada 16 Agustus 1832, Neckarau, dekat Mannheim, Jerman. Meninggal pada 31 Agustus 1920, Leipzig, GroĂźbothen, Jerman. Wundt memiliki pasangan yaitu Sophie Mau (m. 1872–1912). Dan mempunyai 3 orang anak, yakni Max Wundt, Lily Wundt, dan Eleanor Wundt. Orang tua Wundt adalah Marie Frederike, Maximilian Wundt.
Pendidikan                  : Universitas Ruprecht Karl Heidelberg, Universitas Humboldt             Berlin, Universitas TĂĽbingen.
Karir                            : Tahun 1857, menjadi dosen faal di Heidelberg. Tahun 1862, buku Wundt pertama kali berjudul “Beitrage Zur Theorie Der Sines Wahrnemung”. Tahun 1873, buku keduanya “ Grund Zuge Der”. Tahun 1878, menjadi professor filsafat di Zurich. Tahun 1879, ia mendirikan laboratorium psikologi pertama di Leipzig. Tahun 1881, ia mulai belajar mengenai psikologi eksperimental
Prestasi                        :
1. Wundt telah menulis lebih dari 54.000 halaman laporan penelitian dan teori
2. Menjadi mahasiswa kedokteran di Universitas Tubingen
3. 1857, Wundt menerima posisi sebagai dosen Universitas Heidenberg dan menjadi asisten lab seorang psikolog yaitu Hermann Helmholtz
4. 1864, Wundt mulai mengeksplorasi tentang Neuropsikologi
5. 1874, Wundt mengeluarkan buku berjudul Principles of Psychological Psychology yang menjelaskan tentang teori-teori psikologi eksperimental
6. 1881, Wundt membuat jurnal penelitian psikologikal pertama berjudul Philosophical Studies.
Wundt adalah anak keempat dalam keluarga dengan sejarah prestasi intelektual. Ayahnya adalah seorang pendeta Lutheran. Wundt muda hanya diberikan sedikit waktu untuk bermain karena ia di dorong melalui rezim educational yang ketat.
Biografi Edward B. Titchener
Hasil gambar untuk titchener Edward Bradford Titchener, ia lahir pada 11 Januari 1867, Chichester, Britania Raya. Meninggal pada 3 Agustus 1927, Ithaca, New York, Amerika. Kedua orang tuanya bernama Alice Field Habin Titchener dan John Titchener. Riwayat pendidikan Titchener yaitu Kolese Brasenose, Clark University, Universitas Oxford, Malvern College, Universitas Leipzig. Ia juga mendirikan organisasi yang bernama Society of Experimental Psychologists.
Pada tahun 1885 ia mulai belajar di Oxford. Awalnya ia fokus pada biologi, lalu pindah studi ke psikologi komparatif. Selama di Oxford, ia mulai membaca tulisan-tulisan Wilhelm Wundt dan kemudian menerjemahkan volume pertama prinsip teks terkenal Wundt Psikologi Fisiologis dari Jerman ke dalam bahasa Inggris. Titchener lulus dari Oxford pada tahun 1890 dan kemudian belajar dengan Wundt di Leipzig, Jerman, untuk mendapatkan gelar Ph.D. Psikologi dari Universitas Leipzig pada tahun 1892.
Setelah itu Titchener menduduki posisi sebagai profesor psikologi di Cornell University di Ithaca, New York. Di sini ia mendirikan psikologis aliran pemikiran yang dikenal sebagai strukturalisme. Titchener percaya bahwa dengan sistematis mendefinisikan dan mengelompokkan unsur-unsur pikiran, peneliti bisa memahami struktur dari proses mental. Sementara ia sering digambarkan sebagai rasul Wundt, gagasan Titchener yang berbeda dari mentornya. Ia menggunakan metode introspeksi Wundt, tetapi di bawah pedoman yang jauh lebih ketat. Dia hanya tertarik pada hal-hal yang ada dalam kesadaran, sehingga hal-hal seperti naluri atau alam bawah sadar  tidak menarik baginya.

REVIEW
Wundt dan Titchener: Struktur Pikiran 

Wilhelm Wundt adalah seorang profesor biologi yang tertarik pada kesadaran dan budaya manusia. Dia akrab dendan metode ilmiah yang digunakan ilmuan lain dan diterapkan ke fenomena kesadaran manusia. Bagian dari pekerjaan Wundt di ambil alih dan dikembangkan oleh muridnya, Edward Titchener. Sama seperti fisikawan yang lain ia berusaha menemukan partikel dasar yang membentuk materi fisik, Titchener ingin mengidentifikasi elemen dasar dari pengalaman sadar. Dia dan Wundt menggunakan metode melihat ke dalam pengalaman diri mereka sendiri  yang disebut intropeksi. Mereka berlatih keras pada diri sendiri untuk mengamati isi pikiran mereka sendiri se-akurat mungkin dan tidak se-emosional mungkin dalam upaya untuk mengisolasi elemen dasar dari pikiran.
 Suatu hari Wundt pergi ke sebuah kota, dan dia memberikan kuliah umum tamu tentang sejarah psikologi. Saat itu suasana hatinya sedang sangat dramatis dan dia memutuskan untuk memberikan kuliah dengan berperan sebagai Edward Titchener. Wundt tiba dengan mengenakan jenggot palsu dan jubah akademik hitam yang selalu Edward pakai, dan tanpa penjelasan sama sekali Wundt memilih seseorang untuk menjadi demonstrasi intropeksi (sebut saja nama orang itu adalah A). Kemudian Wundt meminta A untuk menutup mata dan Wundt meletakna potongan apel di mulut A, lalu Wundt meminta A untuk menjelaskan kepadanya apa yang A pikirkan dan sensasi apa yang muncul. A ragu-ragu sejenak, kemudian tersenyum dan berkata bahwa yang ada dalam mulutnya adalah apel. Kemudian Wundt berteriak dan mengatakan “Tidak!”,lalu Wundt kembali menjelaskan bahwa dia meminta A untuk mmemberitahukan apa yang ia rasa, apa stimulus tersebut, dan Wundt melarang A mengatakan apa asalah pad lidahnya saat menggambarkan perasaan yang ada dalam pikirannya. Lalu A diam sejenak, dia menenangkan diri dan dengan ragu dia berkata “manis?”, Wundt pun puas dan semakin bersemangat menanyakan apa lagi yang A rasakan, A menjawabnya dengan sedikit rileks dia mendefinisikan apel dengan benda yang sedikit asam, teksturnya kasar, dan basah. Wundt kembali berteriak dan memuji A, yang mengakibatkan A menyeringai. Akhirnya demonstrasi Wundt berhasil, dalam intropeksi, seseorang menggambarkan isi unsur pikiran mereka. Manis, asam, kasar, mereka adalah beberapa blok bangunan yang berasal dari pikiran terstruktur.
Karena mereka tertarik pada unsur-unsur pikiran dan bagaimana mereka terorganisir, Wundt dan Titchener dikenal sebagai strukturalis  yaitu mereka mereka berusaha untuk menentukann struktur pikiran melalui introspeksi yang dikendalikan.
           


Referensi: 

Lahey, Benjamin B, Psychology an Introduction second edition, United State of America : Wm. C. Brown Publisher, 1986.
Passer, Michael W, dan Ronald E. Smith, Psychology The Science of Mind and Behaviour, fourth edition, New York:Mc Graw-Hill, 2008.
https://id.wikipedia.org/wiki/Wilhelm_Wundt diakses pada 01-10-2016

Disusun oleh: Tata Puspita