playlist

Saturday, 17 June 2017

KESADARAN : OBAT-OBATAN YANG MEMPENGARUHI KESADARAN DAN HIPNOSIS




PENDAHULUAN
                Pawlik (1998) menganalogikan diterimanya kesadaran sebagai konstruk psikologi yang sah seperti peristiwa renaissance. Hal ini disebabkan riset mengenai hakekat, struktur dasar serta proses kesadaran pada saat ini telah menjadi satu topic hangat bagi psikologi teoretis dan eksperimen, neuropsikologi klinis dan eksperimen, neurosains, ilmu-ilmu kognitif serta filsafat (Pawlik 1998). Pickering (1999) menyatakan lebih tepat kalau kesadaran bukannya telah pulang kembali ke psikologi melainkan psikologi telah mendapatkan kembali kesadaran, sebab mengakui kesadaran qua pengalaman sebagai bidang kajian penelitian psikologi berarti menemukan kembali apa yang dipandang oleh Wilhelm Wundt dan William James sebagai fenomena pokok psikologi.
            Kesadaran memang telah menjadi satu konsep yang sering digunakan psikologi, namun kesadaran merupakan konsep yang membingungkan dalam ilmu pengetahuan mengenai pikiran (Chalmers, 1995). Salah satu penyebabnya adalah karena pengertian kesadaran sangat bervariasi sehingga tidak ada satu pengertian umum yang dapat diterima semua pihak (Bielecky,2001). Zeman (2001) menguraikan bahwa kata consciousness berasal dari bahasa Latin conscio yang dibentuk dari kata cum yang berarti with (dengan) dan scio yang berarti know (tahu). Kata menyadari sesuatu (to be conscious of something) dalam bahasa Latin pengertian aslinya adalah membagi pengetahuan tentang sesuatu itu dengan orang lain atau diri sendiri. Kata conscious (sadar) dan consciousness (kesadaran) pertama kali muncul dalam bahasa Inggris awal abad 17 (Lewis, 1960 seperti dikutip Zeman, 2001). Kesadaran digambarkan sebagai keadaan mental yang berisi dengan halhal proposisional, seperti misalnya keyakinan, harapan, kekhawatiran, dan keinginan.
            Chalmers (1995) menggolongkan permasalahan kesadaran menjadi dua, yaitu permasalahan mudah (easy problems) dan permasalahan sukar (hard problem). Permasalahan mudah kesadaran berkaitan dengan masalah yang secara langsung dapat dipecahkan oleh metode baku ilmu pengetahuan kognitif. Permasalahan kesadaran yang tergolong mudah itu antara lain adalah (a) bagaimana seseorang melakukan pembedaan stimulus sensoris dan bereaksi secara tepat terhadap stimulus tersebut, (b) bagaimana otak memadukan informasi yang berasal dari berbagai sumber berbeda dan kemudian menggunakan informasi tersebut untuk mengendalikan perilaku, (c) bagaimana seseorang mampu melaporkan kondisi internalnya sendiri, (d) bagaimana kemampuan satu sistem untuk mengakses kondisi internalnya sendiri, (e) bagaimana soal pemusatan perhatian, (g) bagaimana membedakan antara kondisi bangun dengan tidur. Gejalagejala kesadaran semacam itu dapat dijelaskan oleh mekanisme komputasional dan neural. Meskipun gejala kesadaran diatas bukan masalah sepele, kemajuan psikologi kognitif dan neurosains diharapkan dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan tersebut (Chalmers, 1995).
            Hipnosis menurut psikoanalisis adalah keadaan regresi sebagian diamana subjek kekurangan kendali dalam kesadaran yang nyata dan karenanya bertindak secara impulsive dan terlibat dalam perbuatan fantasi (Gill,1972). Menurut Kirsch dan Lynn (1995), hipnosis adalah sebuah prosedur dimana seorang praktisi mengsugestikan perubahan sensasi, persepsi, pikiran, perasaan, atau perlaku dari subjek.
Sejak dulu, obat- obatan telah digunakan untuk mendapatkan efek psikologisnya. Seperti mengubah kognisi dan emosi dengan mempengarui neurotransmitter dalam otak. Obat- obatan memiliki efek psikologi disebut sebagai psikoaktif. Psikoaktif memiliki beberapa kegunaan diantaranya stimulan sebagai obat- obatan peningkat, depresan sebagai obat- obatan penurun, narkotika untuk mengurangi rasa sakit dan kecemasan, dan Halusinogen sebagai obat Psychedelic.
HIPNOSIS

Kata "hipnosis" pertama kali diperkenalkan oleh James Braid, seorang dokter ternama di inggris yang hidup antara tahun 1795 - 1860. Sebelum masa Jame Braid, hipnosis dikenal dengan nama Mesmerism/Magnetism. Hypnos atau dewa tidur Yunani, namun studi fisiologi otak mengungkapkan bahwa hipnosis pasti tidak tidur.
Hipnosis adalah keadaan sugestibilitas tinggi yang pada beberapa orang dapat mengalami duduk membayangkan seolah-olah mereka nyata. Hipnosis menarik karena banyak terapis menggunakannya dalam memperlakukan gangguan mental. Di Amerika Serikat, sekitar 25 persen Ph.D. program psikologi menawarkan kursus atau pelatihan dalam hipnosis (Walling et al., 1998). Dasar para ilmuwan, mengeksplorasi apakah hipnosis adalah keadaan yang unik dari gangguan kesadaran, dan menempatkannya dalam klaim tes yang ketat.
Hypnotic induction adalah proses dimana satu orang (seorang peneliti atau hipnotis) menuntun orang (subjek) dalam hipnosis. (Erik Woody & Pamela Sadler, 2016): Hipnosis biasanya melibatkan pengenalan prosedur dimana subjek diberitahu bahwa sugesti untuk pengalaman imajinatif akan disajikan. Induksi hipnosis adalah sugesti awal untuk menggunakan imajinasi seseorang, dan mungkin berisi elaborasi lebih lanjut dari pendahuluan. Induksi dapat memberikan isyarat penting tentang mode diharapkan memberlakukan sugesti dan sifat yang diharapkan dari perubahan interpersonal dalam hipnosis. Selain itu, induksi dapat memberikan meta-sugesti yang dapat meningkatkan respon setelah sugesti hipnotis dan juga dapat memberikan transisi yang jelas untuk membantu memungkinkan mode perilaku baru dan pengalaman baru muncul di hipnosis.
Hipnosis adalah salah satu pendekatan kesehatan komplementer dan diakui dalam pengobatan sebagai terapi yang efektif (Afife, 2014). Terapi hipnosis telah digunakan dalam dunia medis dan masalah psikiatrik. seperti gangguan kecemasan, depresi, terluka, stress and gangguan stress karena trauma (Mauro, 2014). Hipnosis merupakan keadaan mengubah kesadaran atau keadaan fokus untuk menginduksi stimulus verbal dari terapis (hetero-hipnosis) ataupun dari diri sendiri (self-hipnosis). Teknik hipnotis terbukti berguna bagi berbagai penyakit seperti luka bakar, kanker, masalah otot, dan lain sebagainya (Sheila, 2014). Hipnosis merupakan sugesti untuk perubahan dalam persepsi, sensasi, emosi, dan berpikir (Holger, 2015).

TEORI HIPNOSIS
Teori sosial-kognitif
Untuk teoretikus lain, hipnosis tidak mewakili keadaan khusus disosiasi kesadaran. Sebagai gantinya, teori-teori sosial-kognitif mengusulkan bahwa pengalaman hipnotis hasil dari harapan orang-orang yang termotivasi untuk mengambil peran yang dihipnotis (Kirsch, 2001; Spanos, 1991). Kebanyakan orang percaya bahwa hipnosis melibatkan perpindahan kesadaran dan respon terhadap sugesti. Orang termotivasi untuk menyesuaikan diri dengan peran ini mengembangkan kesiapan untuk menanggapi sugesti hipnotis dan untuk memandang pengalaman hipnosis sebagai nyata dan sukarela.

Teori Disosiasi/Keadaan Kesadaran Yang Berbeda
            Perubahan dalam aktivitas elektris dalam otak diasosiasikan dengan hipnotis, mendukung pernyataan yang menyatakan bahwa hipnosis adalah keadaan kesadaran yang berbeda dari terjaga saat normal (Fingelkurts, Fingelkurts & Kalio, 2007; Hilgar, 1992; Kallio & Revonsou, 2003). Hipnosis melambangkan kesadaran yang terbagi. Menurut peneliti Hipnosis yang terkenal Ernest Hilgard, hipnosis menyebabkan disosiasi atau pembagian kesadaran ke dalam dua komponen yang simultan. Dalam satu aliran kesadaran, orang yang terhipnotis akan mengikuti perintah dari ahli hipnotis. Akan tetapi, dalam tingkat yang berlainan pada kesadaran, mereka berperilaku sebagai “observer yang tersembunyi”, mengetahui apa yang sedang terjadi pada diri mereka. Hipnosis telah diaplikasikan pada sejumlah area, termasuk di antaranya:



  1. Hypnotherapy / Clinical Hipnosis
Hypnotherapy atau Clinical Hipnosis adalah aplikasi hipnosis dalam menyembuhkan gangguan mental dan meringankan gangguan fisik. HIPNOSIS, tidak seperti cara pengobatan lain yang mengobati gejala (simptom) atau akibat yang muncul. Hynosis berurusan langsung dengan penyebab suatu masalah. Dengan menghilangkan penyebabnya maka secara otomatis akibat yang ditimbulkan akan lenyap atau tersembuhkan. Kita ambil contoh kasus Psikosomatis. Jika seseorang menderita psikosomatis misalnya nyeri punggung yang tak kunjung sembuh, dia bisa saja menggunakan obat penahan rasa sakit untuk menghilangkan rasa sakit di punggungnya. Namun hilangnya rasa sakit itu hanya sementara, setelah pengaruh obatnya hilang dia akan merasa sakit lagi dan meminum obat lagi. Ini sama sekali bukan penyembuhan. Orang tidak akan benar-benar sembuh dengan cara itu. Obat hanya akan melemahkan kita karena hidup kita menjadi tergantung dengan obat itu. Dengan hipnosis, psikosomatis bisa sembuh permanen dalam waktu sangat singkat.
  1. Medical and dental hipnosis
Yaitu penggunaan hipnosis untuk dunia medis, terutama oleh dokter ahli bedah dan dokter gigi dalam menciptakan efek anesthesia tanpa menggunakan obat bius. Teknik hipnosis yang digunakan untuk anestesi sudah digunakan oleh John Elliotson (1791 -1868). Elliotson adalah dokter yang pertama kali menggunakan mesmerisme (nama kuno dari hypnotism) untuk melakukan pembedahan tanpa rasa sakit. Catatan: pada masa itu belum ditemukan obat bius yang disuntikkan ataupun dihirup.
  1. Comedy hipnosis
Comedy hipnosis adalah hipnosis yang digunakan untuk hiburan semata. Comedy Hipnosis juga sering disebut sebagai Stage Hipnosis. Dinamakan stage hipnosis atau hipnosis panggung karena pada awalnya hipnosis untuk hiburan hanya diperankan di atas panggung. Namun Comedy Hipnosis sekarang tidak terbatas dalam panggung. Di jalan, taman, mall, kampus atau dimana saja Anda bisa mempraktekkan Comedy Hipnosis.Untuk mempelajari Comedy hipnosis sangat mudah. Anda hanya butuh waktu beberapa jam saja, dan sudah siap untuk terjun ke lapangan. Jika Anda pernah melihat acara stage hipnosis, mungkin Anda menjadi takut dengan hipnosis karena sepertinya seorang hipnotist bisa seenaknya mengendalikan subjek (orang yang dihipnotis).Sebenarnya tidak ada orang lain yang bisa mengendalikan Anda, kecuali Anda mengizinkan untuk dikendalikan.
  1. Forensic Hipnosis
Dalam penyelidikan kepolisian, hipnosis bisa digunakan untuk menggali informasi dari saksi. Suatu kejadian traumatis seperti dalam kasus kejahatan yang menakutkan cenderung membuat pikiran bawah sadar menyembunyikan ingatan yang lengkap tentang kejadian tersebut agar tidak bisa diingat oleh pikiran sadar. Tujuan pikiran sadar menyembunyikan informasi itu sesungguhnya untuk kebaikan diri sendiri, karena apabila kejadian itu bisa diingat dalam kondisi sadar, maka rasa ketakutan akan sering muncul tanpa sebab. Dengan bantuan hipnosis, korban atau saksi bisa mengingat kembali dengan sangat jelas. Hipnosis tidak bisa digunakan untuk mendapatkan pengakuan yang jujur dari pelaku kriminal. Pertama karena pelaku kejahatan pasti akan menolak untuk dihipnotis, dan kedua dalam kondisi hipnosis, seseorang tetap bisa berbohong. Hipnosis berperan mengungkap kejahatan jika diterapkan kepada saksi atau korban. Dengan teknik regresi atau hypernesia, saksi atau korban kejahatan bisa menceritakan dengan sangat rinci tentang peristiwa yang pernah dialaminya.
  1. Metaphysical Hipnosis
Metaphysical hipnosis adalah aplikasi hipnosis dalam meneliti berbagai fenomena metafisik seperti Out of Body Travel, ESP, Clairvoyance, Clairaudience, Komunikasi dengan inner-self, meditasi, mengakses kekuatan superconscious mind dan eksperimen-eksperimen metafisika lainnya. Kebetulan kami kurang tertarik untuk mengembangkan Metaphysical Hipnosis. Dengan kata lain, kami bukan tempat bertanya yang tepat apabila anda punya pertanyaan tentang manfaat hipnosis untuk hal-hal metafisik tersebut.

PENGALAMAN HIPNOTIS
Orang yang terhipnosis perhatiannya terfokus pada suara penghipnosis, kemudian berbicara dan terbuai dalam keadaan sadar yang telah berubah. Tahap ini berbeda setiap individu tetapi kebanyakan memiliki karakteristik sebagai berikut :
1.      Relaksasi, rasa relaksasi yang mendalam dan rasa kedamaian, sering disertai perubahan rasa pada tubuh. Seperti melayang, tenggelam dan menyusut.
2.      Halusinasi Hipnotis : ketika di hipnosis, subjek melihat, merasakan, atau mendengar hal hal yang menyimpang dari biasanya bahkan hal hal yang tidak ada. Seperti mencium bau bunga yang tidak ada.
3.      Analgesia hipnotis. Subjek kehilangan rasa ketika disentuh atau kehilangan rasa sakit di daerah tubuhnya.
4.      Regresi usia hipnotis. Subjek dapat dibuat untuk merasakan bahwa dia kembali ke masa lalu, seperti masa kanak-kanak. Tidak diketahui apakah individu menjalani regresi usia dan mengingat kejadian yang terlupakan, tetapi proses ini sering terjadi pada subjek.
5.      Kontrol hipnotis. Perilaku individu yang terhipnosis kadang terlihat seperti kehilangan kontrol diri. Ketika dikatakan bahwa lengannya dapat melayang, lengan orang yang terhipnotis tersebut akan terlihat melayang seperti diangkat oleh balon yang tak terlihat.



OBAT- OBATAN YANG MEMPENGARUHI KESADARAN
Stimulan: Obat-obatan Perangsang
  • Amfetamin
Amfetamin merupakan psikotropika golongan II yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan (Sulastri, 2013).
  • Kokain
Kokain didepresikan dari daun semak koka,yang terutama ditemukan di Perudan Bilovia. Selama berabad-abad,ekstrak mentah yang disebut pasta koka telah dibuat secara langsung dari daunnya dan dimakan. Laporan para pemakain banyak menyebutkan tentang gelombang perasaan nyaman (wave of wellbeing),mereka merasa percaya diri ramah, bersahabat, gelisahdan berbicara ngelantur serta mereka mamiliki keinginan yang rendah disbanding biasanya untuk makan dan tidur (Pinel, 2007).
  • Nikotin
Nikotin adalah obat yang sangat adiktif sehingga bisa menyebabkan kecanduan. Seperti amfetamin dan kokain, nikotin bertindak di otak dan menciptakan perasaan senang atau kepuasan (Noha Ahmed 2015). Ketika seseorang telah mengalami ketergantungan pada nikotin, maka saat withdrawal (putus zat) individu tersebut akan mengalami perasaan tidak nyaman seperti cemas, merasa tertekan, sulit mengendalikan diri atau mudah marah, mudah putus asa, dan depresi. Gangguan emosi dan perilaku pada pecandu rokok juga erat kaitannya dengan perubahan aktivitas dan fungsi otak. Penelitian tentang pengaruh nikotin terhadap kinerja otak hampir selalu menggunakan metode neuroimaging (Andrian, 2010).

Depresan: Obat-obatan Penurun
  • Alkohol
Depresan yang paling umum adalah alkohol. Alkohol diklasifikasikan sebagai depresan karena pada dosis moderat sampai tinggi alkohol meneka penembakan neural,namun pada dosis rendah alkohol dapat menstimulasi penembakan neural dan memfasilitasi interaksi social. Dosis tinggi menyebabkan hilangnya kesadaran dan bila kadar dalam darah mencapain 0.5% ada resiko kematian akibat depresi respiratorik (Pinel, 2007).
Konsentrasi alkohol dalam darah dapat mempengaruhi mitokondria dalam malakukan metabolism. Asetaldehida dan asetat yang dihasilkan dari proses ini dalam jumlah besar dapat menyebabkan terjadinya penggunaan glukosa oleh otak. Pembentukan asetaldehida dan asetat berlebih terjadi pada pengguna alkohol kronis (Manzo, 2010).
Konsumsi alkohol kronis menghasilkan kerusakan otak ekstensif. Kerusakan ini dihasilkan secara langsung dan tidak langsung. Contoh penyakit yang secara langsung menyebabkan syndrome korsakoff (gangguan neuropsikologis yang ditandai oleh kehilangan ingatan, disfungsi sensorik dan motorik serta demensia berat) (Pinel, 2007). Hasil pengamatan de Wardener dan lennox (1947) di malnutrisi, telah diketahui bahwa penipisan tiamin merupakan mekanisme yang menimbulkan syndrome korsakoff (Kopelman, 2009).
Untuk mengobati kecanduan kini digunakan senyawa kurkawan yang dapat mengurangi laju kerusakan sel atau jaringan atau organ oleh konsumsi alkohol. Penggunaan resuratrol membawa dampak perlindungan pada otak, ginjal dan jantung karena meningkatkan pertumbuhan jumlah mitokondria (Manzo, 2010).



Narkotika: Mengurangi Rasa Sakit dan Kecemasan
Narkoba (Narkotika dan obat- obatan berbahaya) mempunyai istilah-istilah lain yang juga sering digunakan seperti zat adiktif, zat psikoaktif, zat psikotropika (Yatin, 1991). Menurut Yatin 1991 yang dimaksud obat psikoaktif adalah jenis zat yang dapat mengubah pikiran dan perasaan karena pengaruhnya secara langsung terhadap susunan saraf pusat ( otak dan susum tulang belakang).
Penyalahgunaan narkoba sendi secara biologis data mempengaruhi fungsi seksual (Wincze dkk, 1991). Ada beberapa jenis narkoba yang merangsang nafsu seksual. Kokain, mariyuana, brauer adalah perangsang seksual , amfetamin dapat meningkatkan reaksi seksual ( Master,1985) bila digunakan dalam dosis rendah. Temuan tersebut dapat diartikan bahwa para penyalahguna ketiga jenis narkoba tersebut akan cenderung melampiaskan nafsu seksualnya setelah menggunakan (Agnes, 2000).

Halusinogen: Obat-obatan Psychedelic
  • Mariyuana
Mariyuana (ganja) merupakan nama  lazim diberikan kepada daun dan bunga yang dikeringkan dari Cannabi Sativa (semacam pohon rami). Mode umum konsumsinya adalah dengan menghisap daunnya dalam bentuk joint (lintingan mariyuana) atau dengan menggunakan pipa, tetapi mariyuana juga efektif bila dipakai secara oral, mula- mula dipanggang dalam substratkaya minyak, missal sebagai browine coklat, untuk membantu penyerapan dari traktus gastrointestinal (Pinel, 2007).





Disusun oleh : Kelompok 3

Nabila, Whisnu, TataYunanda.



DAFTAR PUSTAKA

1.                                 Ardigo, Sheila, dkk., Hipnosis can reduce pain in hospitalized older patients: a randomized controlled study : Ardigo et al. BMC Geriatrics, 2016, DOI 10.1186/s12877-016-0180-y.
2.                                 Avalos, Salvador Manzo &  Molina, Alfredo Saavedra. Cellular and Mitochondrial Effect of Alkohol Consumption. Int.j.Environ. Res.Public Health, 2010, 7, 4281- 4303, DOI: 10.3390/ijerph7124281.
3.                                 Cozzolino, Mauro , dkk.,   A bioinformatic analysis of the molecular-genomic signature of therapeutic hipnosis : The International Journal of Psychosocial and Cultural Genomic ,  2014, Vol. 1 No. 1.
4.                                 Cramer, Holger, dkk. Hipnosis in Breast Cancer Care: A Systematic Review of Randomized Controlled Trials. Integrative Cancer Therapies, 2015, Vol. 14(I) 5- 15, DOI: 10.1177/153735414550035.
5.                                 Guly,HR. Use and abuse of alkohol and other drugs during the heroic age of Antarctic exploration. Derriford Hospital, plymounth, 2012, Vol. 24(I) 94- 105, DOI: 10.1177/0957154X12450139.
6.                                 Hastjarjo, Dicky. Sekilas Tentang Kesadaran (Consciousness): Buletin Psikologi, 2005,Volume 13, No. 2.
7.                                 Kabalak, Afife Alyla, dkk. Clinical Hipnosis for Symtom  Management of Cancer Patients in Palliative Care. Anarka Ulus State Hospital, Anarka, Altindag, Turkey, 2014, http://dx.doi.org/10.4172/2165-7386.1000181.
8.                                 Kopelman, Michael D,dkk. The Korsakoff Syndrom: Clinical Aspects, Psychology and Treatment. Alkohol & Alkoholism, 2009,Vol. 44, No. 2, pp. 148- 154.
9.                                 Lahey, Benjamin B, Psychology an Introduction second edition, United State of America : Wm. C. Brown Publisher, 1986.
10.                             Lestari, Sulastri Indah, Strategi Badan Narkotika Nasional Kota Samarinda Dalam Menanggulangi Penggunaan Narkoba di Kelurahan Sungai Pinang Dalam Kota Samarinda: Ejournal Ilmu Pemerintah, 2013, I (2):943-955, ISSN :2338-3651.
11.                             Liem, Andrian, Pengaruh Nikotin terhadap Aktivitas dan Fungsi Otak serta Hubungannya dengan Gangguan Psikologis pada Pecandu Rokok: BULETIN PSIKOLOGI, 2010, VOLUME 18, NO. 2, 37 – 50, ISSN: 08547108.
12.                             Mesman, Glenn.R. The Relation Between ADHD Symptoms and alkohol Use in Collage Students.Journal of Attention Disorders, 2015, Vol. 19 (8) 694- 702, DOI: 10.1177/1087054713498931.
13.                             Mohamed, Noha Ahmed dan ElMwafie, Seham Mohamed. Effect of Hypnotherapy on smoking cessation among secondary school students.Faculty of Nursing, Beni- Suef University,Beni Suef, Egypt, 2014, Vol. 5, No.2, DOI: 10.5430/jnep.v5n2p67.
14.                             Passer, Michael W dan Smith, Ronald E, Psychology The Science of Mind and Behaviour, New York : Mc Graw-Hill, 2008.
15.                             Pinel, John P. J, Biopsikologi Edisi Ketujuh, terj. Helly, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2015, ISBN : 978-602-8300-75-9.
16.                             Purnomowardani, Agnes Dewanti & Koentjoro. Penyingkapan diri, perilaku seksual, dan penyalahgunaan narkoba: Jurnal Psikologi, 2000, No. 1, 60-72.
17.                             Sulliivan, Edith V, dkk. Alkohol’s Effect on Brain and Behavior. Neuropsychological Sequelae of Alcololism, 2010, Vol. 33, Nos. 1 and 2.
18.         Woody, Erik & Sadler,Pamela.What Can a Hipnotic Induction Do?. American Journal of Clinical Hipnosis, 2016, DOI: 10.1080/00029157.2016





Disusun oleh : Kelompok 3

Nabila, Whisnu, TataYunanda.

Friday, 16 June 2017

Memimpikan hal indah itu adalah kebiasaan yang mudah dilakukan
Tetapi membayangkan kegagalan meraih cita itulah kepahitan yang tak nyata
Menunggu setelah proses adalah hal yang penuh teka-teki
Tidak lain tidak bukan kekhawatiran yang seolah akan menoreh duka atau suka
Membiarkan waktu yang akan mencatat rangkaian kehidupan
Ternyata butuh tekad kuat nan ikhlas bukan hanya sekedar keberanian jiwa
Menentukan langkah apa, kapan, dimana, mengapa, siapa, dan bagaimana yang terlihat begitu rumit
Teruslah bersabar, berusaha penuh harap, dan berdoa tiada henti
Semua yang akan menjadi hak dan milikmu itu nyata dari Ridho-Nya.


By: Tata :)

Thursday, 25 May 2017

REVIEW PERSPEKTIF HUMANISTIK DAN SOSIO-KULTURAL




PERSPEKTIF HUMANISTIK

Hasil gambar untuk carl rogers
Carl Rogers
(1902-1987)
Hasil gambar untuk abraham maslow
Abraham Maslow
(1908-1970)

                                                                                                                                                                   
Gambar terkait
Viktor Frankl
(1905-1997)
Selama tahun 1950 dan 1960-an, gerakan teoritis penting ketiga muncul dalam psikologi sering dikenal sebagai "kekuatan ketiga" dalam psikologi. Dipimpin oleh almarhum Carl Rogers, Abraham Maslow, dan Victor Frankl, psikologi humanistik melukiskan gambaran yang sangat berbeda tentang manusia, baik dari psikoanalisis ataupun behaviorisme. Alih-alih menjadi seorang makhluk yang didorong oleh motif bawah sadar mereka (seperti yang Freud katakan) atau secara pasif dibentuk oleh pengalaman belajar mereka (sebagai Waston katakan), manusia menentukan nasib mereka sendiri melalui keputusan yang mereka buat. Dalam hal ini, orang memiliki kecenderungan bawaan kuat untuk tumbuh, untuk improve, dan untuk mengendalikan kehidupan mereka sendiri. Meskipun manusia dapat dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan luar, tidak ada yang menentukan perilaku mereka selain kehendak bebas mereka sendiri yang menentukan.
            Psikologi humanistik adalah yang paling tidak ilmiah dari semua psikolog. Ini bukan berarti mengatakan bahwa psikolog humanistik tidak pernah menggunakan metode ilmiah. Hanya saja banyak masalah yang mereka khawatirkan akan sulit diselidiki secara ilmiah. Topik seperti kehendak bebas, nilai-nilai, kebaikan penting dari orang, motif yang merangsang penciptaan seni dan filsafat, dan keunikan masing-masing kepribadian manusia adalah yang terpenting bagi psikolog humanistik, tapi masalah ini sifatnya lebih filosofis daripada ilmiah. Di sisi lain, psikolog humanistik terkemuka seperti Carl Rogers sangat tertarik pada metode psikoterapi dan telah melakukan banyak penelitian mengevaluasi pendekatannya dan Abraham Maslow pun menyatakan bahwa manusia masing-masing memiliki kekuatan bawaan ke arah aktualisasi diri yang mencapai satu potensi diri.
            Fokus humanisme pada aktualisasi diri dan pertumbuhan juga terlihat dalam gerakan psikologi positif, yang menekankan studi tentang kekuatan manusia, pemenuhan, dan hidup yang optimal (Snyder dan Lopez 2007). Berbeda dengan fokus lama psikologi tentang “apa yang salah dengan dunia kita” (misalnya, gangguan mental, konflik, prasangka), psikologi positif meneliti bagaimana kita bisa memelihara apa yang terbaik dalam diri kita sendiri dan masyarakat untuk menciptakan kehidupan yang bahagia dan memuaskan.  

PERSPEKTIF SOSIO-KULTURAL
THE SOCIO-CULTURAL: THE EMBEDDED HUMAN
Manusia adalah makhluk sosial. Tertanam dalam budaya, masing-masing dari kita pernah menghadapi perubahan pengaturan sosial yang membentuk tindakan kita dan nilai-nilai, rasa identitas diri, sangat konsepsi kita tentang realitas. Perspektif sosial budaya meneliti bagaimana lingkungan sosial dan pembelajaran budaya mempengaruhi perilaku kita, pikiran, dan perasaan.
Belajar Budaya dan Keanekaragaman
Budaya mengacu pada nilai-nilai abadi, keyakinan, perilaku, dan tradisi yang dimiliki oleh sekelompok besar orang dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Semua kelompok budaya mengembangkan norma-norma sosial mereka sendiri, aturan (sering tidak tertulis) yang menentukan apa perilaku yang dapat diterima dan diharapkan untuk anggota kelompok itu. Norma yang ada untuk semua jenis perilaku sosial, seperti cara berpakaian, menanggapi orang dari status yang lebih tinggi, atau bertindak sebagai wanita atau pria. Agar budaya bisa bertahan, setiap generasi baru harus menginternalisasi, atau mengadopsi, norma-norma dan nilai-nilai kelompok sebagai milik mereka. Sosialisasi adalah proses dimana budaya ditularkan kepada anggota baru dan diinternalisasi oleh mereka.
Psikolog telah lama mengakui dampak budaya dalam membentuk siapa diri kita (Miller & Dollard, 1941). Namun, meski mengakui pentingnya budaya ini, banyak penelitian psikologis abad ke-20 sebagian besar diabaikan kelompok non-Barat. Seperti lintas-budaya biasanya dibiarkan antropolog. Bahkan dalam masyarakat Barat, untuk peserta dekade dalam penelitian psikologis biasanya typically White dan datang dari latar belakang menengah-kelas atas. Situasi ini sangat umum pada tahun 1976, psikolog Afrika Amerika, Robert Guthrie menerbitkan sebuah buku berjudul Even the Rat was White: A Historical View of Psychology. Ada pengecualian penting, namun, seperti penelitian oleh Kenneth Clark (1914-2005) dan Mamie Clark (1917-1983) dan lain-lain, meneliti bagaimana diskriminasi dan prasangka mempengaruhi perkembangan kepribadian anak-anak Amerika Afrika (Clark & Clark, 1947).
Seiring waktu, psikolog mulai belajar kelompok etnis dan budaya yang beragam. Hari ini tumbuh psikologi budaya (kadang-kadang disebut psikologi lintas-budaya) mengeksplorasi bagaimana budaya ditularkan kepada anggotanya dan meneliti kesamaan psikologis dan perbedaan antara orang-orang dari beragam budaya (Varela et al.,2007) .
Salah satu perbedaan penting antara budaya adalah sejauh mana mereka menekankan individualisme vs kolektivisme (Triandis & Suh, 2002). Kebudayaan yang paling maju dari Eropa Utara dan Amerika Utara mempromosikan individualisme, penekanan pada tujuan pribadi dan identitas diri terutama didasarkan pada atribut dan prestasi sendiri. Sebaliknya, banyak budaya di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan membina kolektivisme, di mana tujuan individu tunduk kepada orang-orang dari kelompok dan identitas pribadi didefinisikan terutama oleh ikatan yang mengikat satu ke keluarga dan kelompok sosial lainnya. Perbedaan ini dibuat oleh pengalaman pembelajaran sosial yang dimulai di masa-masa kecil dan terus menerus dalam bentuk kebiasaan sosial. Di sekolah, misalnya, anak-anak Jepang lebih sering bekerja dalam kelompok pada tugas umum, sedangkan anak-anak Amerika lebih sering bekerja sendiri pada tugas individu.

Berpikir tentang kesepian tahun pertama Ray di perguruan tinggi, perspektif sosial budaya menuntun kita untuk bertanya bagaimana pendidikan budaya dan faktor sosial lainnya berkontribusi terhadap perilaku pemalu. Sepanjang tahun remaja, norma-norma budaya untuk ketegasan laki-laki mungkin telah memberikan tekanan pada Ray. Rasa malu mungkin telah menimbulkan gangguan dan reaksi negatif lainnya dari rekan-rekan SMA-nya, meningkatkan perasaan tidak mampu pada saat ia mencapai perguruan tinggi. Adapun hubungan Ray dan Kira, kita mungkin akan meneliti bagaimana norma-norma tentang pacaran dan pernikahan berbeda antar budaya.

referensi:
Passer, Michael W, dan Ronald E. Smith, Psychology The Science of Mind and 
                 Behaviour, fourth edition, New York:Mc Graw-Hill, 2008.
Lahey, Benjamin B, Psychology an Introduction, second edition, United State of America: Wm. C. Brown Publisher, 1986.





Review ini disusun oleh Tata Puspita :)

Wednesday, 10 May 2017

Childhood Bullying Linked to Health Risks in Adulthood

This is a photo of a teen sitting alone on a set of stairs.


Childhood bullying may lead to long-lasting health consequences, impacting psychosocial risk factors for cardiovascular health well into adulthood, according to a study published in Psychological Science, a journal of the Association for Psychological Science. The unique study tracked a diverse group of over 300 American men from first grade through their early thirties and the findings indicate that being a victim of bullying and being a bully were both linked to negative outcomes in adulthood.
The study, led by psychology researcher Karen A. Matthews of the University of Pittsburgh, showed that men who were bullies during childhood were more likely to smoke cigarettes and use marijuana, to experience stressful circumstances, and to be aggressive and hostile at follow-up more than 20 years later. Men who were bullied as children, on the other hand, tended to have more financial difficulties, felt more unfairly treated by others, and were less optimistic about their future two decades later.
These outcomes are especially critical, the researchers note, because they put the men at higher risk for poor health, including serious cardiovascular issues, later in life.
“The long term effects of bullying involvement are important to establish,” says Matthews. “Most research on bullying is based on addressing mental health outcomes, but we wished to examine the potential impact of involvement in bullying on physical health and psychosocial risk factors for poor physical health.”
Previous research has linked psychosocial risk factors like stress, anger, and hostility to increased risk of health problems such as heart attacks, stroke, and high blood pressure. Because bullying leads to stressful interpersonal interactions for both the perpetrators and targets, Matthews and colleagues hypothesized that both bullies and bullying victims might be at higher risk of negative health outcomes related to stress.
The research team recruited participants from the Pittsburgh Youth Study, a longitudinal study of 500 boys enrolled in Pittsburgh public schools in 1987 and 1988, when the boys were in the first grade. More than half of the boys in the original study were Black and nearly 60% of the boys’ families received public financial assistance such as food stamps.
Along with regular assessments on psychosocial, behavioral, and biological risk factors for poor health, researchers collected data from children, parents, and teachers on bullying behavior when the participants were 10 to 12 years old.
Matthews and colleagues successfully recruited over 300 of the original study participants to complete questionnaires on psychosocial health factors such as stress levels, health history, diet and exercise, and socioeconomic status. Around 260 of the men came into the lab for blood draws, cardiovascular and inflammation assessments, and height and weight measurements.
Unexpectedly, neither bullying nor being bullied in childhood was related to inflammation or metabolic syndrome in adulthood. However, both childhood bullies and bullying victims had increased psychosocial risk factors for poor physical health.
The boys who engaged in more bullying in childhood tended to be more aggressive and were more likely to smoke in adulthood, risk factors for cardiovascular disease and other life-threatening diseases.
The boys with higher scores for being bullied tended to have lower incomes, more financial difficulties, and more stressful life experiences. They also perceived more unfair treatment relative to their peers. These outcomes are also related to risk for cardiovascular disease.
“The childhood bullies were still aggressive as adults and victims of bullies were still feeling like they were treated unfairly as adults,” Matthews explained. “Both groups had a lot of stress in their adult lives – so the impact of childhood bullying lasts a long time!”
The effects of bullying were fairly similar for both Black and White men, as well as those participants who came from low socioeconomic status families.
Matthews and colleagues anticipate that both bullies and their victims may be at greater risk for poor physical health, including cardiovascular-disease events, over the long term. But they caution that many participants in the original study could not participate in this follow-up study because they were either deceased or incarcerated, which may have affected the results in unknown ways.
The findings suggest that identifying children who are at risk for involvement in bullying and intervening early on may yield long-term psychosocial and even physical health benefits that last into adulthood.
Co-authors on the research include J. Richard Jennings and Laisze Lee of the University of Pittsburgh and Dustin A. Pardini of Arizona State University.
This research was supported by National Heart, Lung, and Blood Institute Grant R01-HL111802. Data collection for the Pittsburgh Youth Study was funded by National Institute on Drug Abuse Grant DA411018, National Institute of Mental Health Grants MH48890 and MH50778, the Pew Charitable Trusts, and Office of Juvenile Justice and Delinquency Prevention Grant 96-MU-FX-0012.

Teori Belajar Sosial - Albert Bandura - Teori Kepribadian


Albert Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925,di kota kecil Mundare bagian selatan Alberta, Kanada. Dia sekolah di sekolah dasar dan sekolah menengah yang sederhana, namun dengan hasil rata-rata yang sangat memuaskan. Setelah selesai SMA, dia bekerja pada perusahaan penggalian jalan raya Alaska Highway di Yukon. 
Dia menerima gelar sarjana muda di bidang psikologi dari University of British of Columbia tahun 1949. Kemudian dia masuk University of Iowa, tempat di mana dia meraih gelar Ph.D tahun 1952. Baru setelah itu dia menjadi sangat berpengaruh dalam tradisi behavioris dan teori pembelajaran.
Waktu di Iowa, dia bertemu dengan Virginia Varns, seorang instruktur sekolah perawat. Mereka kemudian menikah dan dikaruniai dua orang puteri. Setelah lulus, dia menerukan pendidikannya ke tingkat post-doktoral di Wichita Guidance Center di Wichita, Kansas.
Tahun 1953, dia mulai mengajar di Standford University. Di sini, dia kemudian bekerja sama dengan salah seorang anak didiknya, Richard Walters. Buku pertama hasil kerja sama mereka berjudul Adolescent Aggression terbit tahun 1959. Sayangnya, Walters mati muda karena kecelakaan sepeda motor.
Bandura menjadi presiden APA tahun 1973, dan menerima APA Award atas jasa-jasanya dalam Distinguished Scientific Contributions tahun 1980.
Bandura meneliti beberapa kasus, salah satunya ialah kenakalan remaja. Menurutnya, lingkungan memang membentuk perilaku dan perilaku membentuk lingkungan. Oleh Bandura, konsep ini disebut determinisme resiprokal yaitu proses yang mana dunia dan perilaku seseorang saling memengaruhi. Lanjutnya, ia melihat bahwa kepribadian merupakan hasil dari interaksi tiga hal yakni lingkungan, perilaku, dan proses psikologi seseorang. Proses psikologis ini berisi kemampuan untuk menyelaraskan berbagai citra (images) dalam pikiran dan bahasa.
Dalam teorinya, Bandura menekankan dua hal penting yang sangat mempengaruhi perilaku manusia yaitu pembelajaran observasional (modeling) yang lebih dikenal dengan teori pembelajaran sosial dan regulasi diri. Beberapa tahapan yang terjadi dalam proses modeling.
BELAJAR SOSIAL
Bagi bandura, walaupun prinsip belajar cukup untuk menjelaskan dan meramalkan perubahan tingkah laku, prinsip itu harus memperthatikan dua fenomena penting yang diabaikan atau ditolak oleh paradigma behaviorisme.
Pertama, Bandura berpendapat bahwa manusia dapat berfikir dan mengatur tingkah lakunya sendiri, sehingga mereka bukan semata – mata budak yang menjadi objek pengaruh lingkungan. Sifat kausal bukan dimiliki sendirian oleh lingkungan, karena orang dan lingkungan saling mempengaruhi.
Kedua, Bandura menyatakan, banyak aspek fungsi kepribadian melibatkan interaksi dengan orang lain. Dampaknya, teori kepribadian yang memadai harus memperhitungkan konteks sosial di mana tingkah laku itu diperoleh dan dipelihara. Berikut akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai determinan resiprokal, beyond reinforcement, dan self regulation.
Teori Belajar Sosial berusaha menjelaskan tingkahlaku manusia dari segi interaksi timbal-balik yang berkesinambungan antara faktor kognitif, tingkahlaku, dan faktor lingkungan. Dalam proses determinisme timbal-balik itulah terletak kesempatan bagi manusia untuk mempengaruhi nasibnya maupun batas-batas kemampuannya untuk memimpin diri sendiri (self-direction). Konsepsi tentang cara manusia berfungsi semacam ini tidak menempatkan orang semata-mata sebagai objek tak berdaya yang dikontrol oleh pengaruh-pengaruh lingkungan ataupun sebagai pelaku-pelaku bebas yang dapat menjadi apa yang dipilihnya. Manusia dan lingkungannya merupakan faktor-faktor yang saling menentukan secara timbal balik.
1.      Determinis resiprokal
Pendekatan yang menjelaskan tingkah laku manusia dalam bentuk interaksi timbal balik yang terus menerus antara determinan kognitif, behavioral dan lingkungan. Orang menentukan / mempengaruhi tingkah lakunya dengan mengontrol lingkungan, tetapi orang itu juga dikontrol oleh kekuatan lingkungan itu. Determenis resiprokal adalah konsep penting dalam teori belajar sosial Bandura, menjadi pijakan Bandura dalam memahami tingkah laku. Teori belajar sosial memakai saling detirminis sebagai prinsip dasar untuk menganalisis fenomena psiko-sosial di berbagai tingkat kompleksitas, dari perkembangan interpersonal sampai tingkah laku interpersonal serta fungsi interaktif sari organisasi dan sistem sosial.
2.      Tanpa reinforcement
Bandura memandang teori Skinner dan Hull terlalu bergantung pada reinforcement. Jika setiap unik respon sosial yang orang malah tidak belajar apapun. Menurutnya reinforcement penting dalam menentukan apakah suatu tingkah laku akan terus terjadi atau tidak, tetapi itu bukan satu – satunya pembentuk tingkah laku. Orang dapat belajar melakukan sesuatu hanya dengan mengamati dan kemudian mengulang apa yang dilihatnya. Belajar melalui observasi tanpa ada reinforsement yang terlibat, berarti tingkah laku ditentukan oleh antisipasi konsekuensi, itu merupakan pokok teori belajar sosial.
3.      Kognisi dan Regulasi diri
Teori belajar tradisional sering terhalang oleh ke-tidak-senangan atau ketidak mampuan mereka untuk menjelaskan proses kognitif. Konsep Bandura menempatkan manusia sebagai pribadi yang dapat mengatur diri sendiri (self regulation), mempengaruhi tingkah laku dengan cara mengatur lingkungan, menciptakan dukungan kognitif, mengadakan konsekuensi bagi tingkah lakunya sendiri. Kemampuan kecerdasan untuk berfikir simbolik menjadi sarana yang kuat untuk menangani lingkungan, misalnya dengan  menyimpan pengalaman (dalam ingatan) dalam wujud verbal dan gambaran imajinasi untuk kepentingan tingkahlaku pada masa yang akan datang. Kemampuan untuk menggambarkan secara imajinatif hasil yang diinginkan pada masa yang akan datang mengembangkan strategi tingkah laku yang membimbing ke arah tujuan jangka panjang.
Bandura: Hubungan antara Pribadi, Lingkungan dan Tingkah laku saling
mempengaruhi
Pavlov   : Lingkungan menjadi variabel tunggal penentu Tingkahlaku
Skinner  : Pribadi mempengaruhi Tingkahlaku melalui manipulasi Lingkungan
Lewin  : Pribadi dan Lingkungan adalah 2 variabel independen yang mempengaruhi tingkahlaku
STRUKTUR KEPRIBADIAN
Sistem Self (Self System)
Tidak seperti Skinner yang teorinya tidak memiliki konstruk self, Bandura yakin bahwa pengaruh yang ditimbulkan oleh self sebagai salah satu determinan tingkah laku tidak dapat dihilangkan tanpa membahayakan penjelasan & kekuatan peramalan. Dengan kata lain, self diakui sebagai unsur struktur kepribadian. Saling determinis menempatkan semua hal saling berinteraksi, di mana pusat atau pemula­nya adalah sistem self. Sistem self itu bukan unsur psikis yang mengontrol tingkah laku, tetapi mengacu ke struktur kognitif yang memberi pedoman mekanisme dan seperangkat fungsi-fungsi persepsi, evaluasi, dan pengaturan tingkah laku. Pengaruh self tidak otomatis atau mengatur tingkah laku secara otonom, tetapi self menjadi bagian dari sistem interaksi resiprokal.
Regulasi Diri
Manusia mempunyai kemampuan berfikir, dan dengan kemampuan itu mereka memanipulasi lingkungan, sehingga terjadi perubahan lingkungan akibat kegiatan manusia. Balikannya dalam bentuk deteminis resiprokal berarti orang dapat mengatur sebagian clan tingkahlakunya sendiri. Menurut Bandura, akan terjadi strategi reaktif dan proaktif dalam regulasi did. Strategi reaktif dipakai untuk mencapai tujuan, namun ketika tujuan hampir tercapai strategi proaktif menentukan tujuan baru yang lebih tinggi. Orang memotivasi dan membimbing tingkahlakunya sendiri melalui strategi proaktif, menciptakan ketisakseimbangan, agar dapat memobilisasi kemampuan dan usahanya berdasarkan antisipasi apa Baja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Ada tiga proses yang dapat dipakai untuk melakukan pengaturan memanipulasi faktor eksternal, memonitor dan mengevaluasi tingkahlaku internal. Tingkahlaku manusia adalah hasil pengaruh resiprokal faktor eksternal dan faktor internal itu.
a)      Faktor Eksternal dalam Regulasi Diri
Faktor eksternal mempengaruhi regulasi diri dengan dua cara, pertama faktor eksternal memberi standar untuk mengevaluasi tingkah laku. Faktor lingkungan berinteraksi dengan pengaruh – pengaruh pribadi, membentuk standar evaluasi diri seseorang. Melalui orang tua dan guru anak – anak belajar baik-buruk, tingkah laku yang dikehendaki dan tidak dikehendaki. Melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas anak kemudian mengembangkan standar yang dapat dipakai untuk menilai prestasi diri.
Kedua, faktor eksternal mempengaruhi regulasi diri dalam bentuk penguatan (reinforcement). Hadiah intrinsik tidak selalu memberi kepuasan, orang membutuhkan intensif yang berasal dari lingkungan eksternal. Standar tingkah laku dan penguatan biasanya kerja sama; ketika orang dapat mencapai standar tingkah laku tertentu, perlu penguatan agar tingkah laku semacam itu menjadi pilihan untuk dilakukan lagi.
b)      Faktor Internal dalam Regulasi Diri
Faktor eksternal berinteraksi dengan faktor internal dalam pengaturan diri sendiri. Bandura mengemukakan tiga bentuk pengaruh internal:
·         Observasi diri (self observation):
 Dilakukan berdasarkan faktor kualitas penampilan, kuantita penampilan, orisinalitas tingkahlaku dan seterusnya. Orang harus mampu memonitor performansinya, walaupun tidak sempurna karena orang cenderung memilih beberapa aspek dari tingkahlakunya dan mengabaikan tingkahlaku lainnya. Apa yang diobservasi seseorang tergantung kepada minat dan konsep dirinya.
·         Proses penilaian atau mengadili tingkah laku (judgmental process):
Adalah melihat kesesuaian tingkahlaku dengan standar pribadi, membandingkan tingkah laku dengan norma standar atau dengan tingkah laku orang lain, menilai berdasarkan pentingnya suatu aktivitas, dan memberi atribusi performansi. Standar pribadi bersumber dari pengalaman mengamati model misalnya orang tua atau guru, dan menginterpretasi balikan/penguatan dari performansi diri. Berdasarkan sumber model dan performansi yang mendapat penguatan, proses kognitif menyusun ukuran-ukuran atau norma yang sifatnya sangat pribadi, karena ukuran itu tidak selalu sinkron dengan kenyataan. Standar pribadi ini jumlahnya terbatas. Sebagian besar aktivitas hams dinilai dengan membandingkannya dengan ukuran eksternal, bisa berupa norma standar, perbandingan social, perbandingan dengan orang lain, atau perbandingan kolektif. Orang juga menilai suatu aktivitas berdasarkan anti penting dari aktivitas itu bagi dirinya. Akhirnya, orang juga menilai seberapa besar dirinya menjadi penyebab dari suatu performansi, apakah kepada diri sendiri dapati dikenai atribusi (penyebab) tercapainya suatu performansi, atau sebaliknya justru mendapat atribusi terjadinya kegagalan dan performansi yang buruk.
·         Reaksi-diri-afektif (self response):
Akhirnya berdasarkan pengamaan dan judgment itu, orang mengevaluasi diri sendiri positif atau negatif, dan kemudian menghadiahi atau menghukum diri sendiri. Bisa terjadi tidak muncul reaksi afektif, karena fungsi kognitif membuat keseimbangan yang mempengaruhi evaluasi positif atau negatif menjadi kurang bermakna secara individual.
Efikasi Diri (Self Effication)
Bagaimana orang bertingkahlaku dalam situasi tertentu tergantung kepada resiprokal antara lingkungan dengan kondisi kognitif, khususnya faktor kognitif yang berhubungan dengan keyakinannya bahwa dia mampu atau tidak melakukan tindakan yang memuaskan. Bandura menyebut keyakinan atau harapan diri ini sebagai efiksasi diri,dan harapan hasilnya disebut ekspektasi hasil.
ü  Efiksasi diri atau ekspektasi (self effication – efficacy expectation) adalah “Persepsi diri sendiri mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu”. Efikasi dari berhubungan dengan keyakinan bahwa diri memiliki kemampuan melakukan tindakan yang diharapkan.
ü  Ekspektasi hasil (outcome expectations) adalah perkiraan atau estimasi diri bahwa tingkah laku yang dilakukan diri itu akan mencapai hasil tertentu.
Efikasi adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Efikasi ini berbeda dengan aspirasi (cita – cita), karena cita – cita menggambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya dapat dicapai. Sedangkan efikasi menggambarkan ekspektasi efikasi yang tinggi, bahwa dirinya mampu melaksanakan operasi tumor sesuai dengan standar profesional. Namun ekspektasi hasilnya bisa rendah, karena hasil operasi itu sangat tergantung pada daya tahan jantung pasien, kemurnian obat antibiotik, sterilitas dan infeksi, dan sebagainya. Orang bisa memiliki ekspektasi hasil yang realistik (apa yang diharapkan sesuai dengan kenyataan hasilnya), atau sebaliknya, ekspektasi hasilnya tidak realistik (mengharap terlalu tinggi dari hasil nyata yang dipakai). Orang yang ekspektasinya tinggi (percaya bahwa dia dapat mengerjakan sesuai dengan tuntutan situasi) dan harapan hasilnya realistik (memperkirakan hasil sesuai dengan kemampuan diri). Orang itu akan bekerja keras dan bertahan mengerjakan tugas sampai selesai.
Sumber Efikasi Diri
Perubahan tingkah laku, dalam system Bandura kuncinya adalah perubahan ekspektasi (efikasi diri). Efikasi diri atau keyakinan kebiasaan diri itu dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan atau diturunkan, melalui salah satu atau kombinasi empat sumber, yakni pengalaman menguasai sesuatu prestasi (performance accomplishment), pengalaman vikarius (vicarious experience), persuasi social (social persuation) dan pembangkitan emosi (Emotional/Physiological states).
Pengalaman performansi
Adalah prestasi yang pernah dicapai pada masa yang telah lalu. Sebagai sumber, performansi masa lalu menjadi pengubah efikasi diri yang paling kuat pengaruhnya. Prestasi (masa lalu) yang bagus meningkatkan ekspektasi efikasi, sedang kegagalan akan menurunkan efikasi. Mencapai keberhasilan akan member dampak efikasi yang berbeda-beda, tergantung proses pencapaiannya :
  1. Semakin sulit tugasnya, keberhasilan akan membuat efikasi semakin tinggi.
  2. Kerja sendiri, lebih meningkatkan efikasi dibanding kerja kelompok, dibantu orang lain.
  3. Kegagalan menurunkan efikasi, kalau orang merasa sudah berusaha sebaik mungkin.
  4. Kegagalan dalam suasana emosional/stress, dampaknya tidak seburuk kalau kondisinya optimal.
  5. Kegagalan sesudah orang memiliki keyakinan efikasi yang kuat, dampaknya tidak seburuk kalau kegagalan itu terjadi pada orang yang keyakinan efikasinya belum kuat.
  6. Orang yang biasa berhasil, sesekali gagal tidak mempengaruhi efikasi.
Pengalaman Vikarius
Diperoleh melalui model social. Efikasi akan meningkat ketika mengamati keberhasilan orang lain, sebaliknya efikasi akan menurun jika mengamati orang yang kemampuannya kira-kira sama dengan dirinya ternyata gagal. Kalau figure yang diamati berbeda dengan diri sipengamat, pengaruh vikarius tidak  besar. Sebaliknya ketika mengamati kegagalan figure yang setara dengan dirinya, bisa jadi orang tidak mau mengerjakan apa yang pernah gagal dikerjakan figur yang diamatinya itu dalam jangka waktu yang lama.

Tabel Strategi Pengubahan Sumber Ekspektasi Efikasi
Sumber
Cara Induksi
Pengalaman Performansi
Participant modelling
Meniru model yang berprestasi
Performance desenzation
Menghilangkan pengaruh buruk prestasi masa lalu
Performance exposure
Menonjolkan keberhasilan yang pernah diraih
Selfinstructed performance
Melatih diri untuk melakukan yang terbaik
Pengalaman Vikarius
Live modeling
Mengamati model yang nyata
Symbolic modelling
Mengamati model simbolik,film,komik,cerita.
Persuasi Verbal
Suggestion
Mempengaruhi dengan kata-kata berdasar kepercayaan
Exhortation
Nasihat,peringatan yang mendesak/memaksa.
Self-instruction
Memerintah diri sendiri
Interpretive treatment
Interpretasi baru memperbaiki interpretasi lama yang salah
Pembangkitan Emosi
Attribution
Mengubah atribusi, penanggungjawab suatu kejadian emosional
Relaxation biofeedback
Relaksasi
Symbolic desensitization
Menghilangkan sikap emosional dengan modeling simbolik
Symbolic exposure
Memunculkan emosi secara simbolik

Persuasi Sosial
Efikasi diri juga dapat diperoleh, diperkuat atau dilemahkan melalui persuasi social. Dampak dari sumber ini terbatas, tetapi pada kondisi yang tepat persuasi dari orang lain dapat mempengaruhi efikasi diri. Kondisi itu adalah rasa percaya kepada pemberi persuasi, dan sifat realistik dari apa yang dipersuasikan.
Keadaan Emosi
Keadaan emosi yang mengikuti suatu kegiatan akan mempengaruhi efikasi di bidang kegiatan itu. Emosi yang kuat, takut, cemas, stress, dapat mengurangi efikasi diri. Namun bisa terjadi, peningkatan emosi (yang tidak berlebihan) dapat meningkatkan efikasi diri.
Perubahan tingkah laku akan terjadi kalau sumber ekspektasi efikasinya berubah. Pengubahan self-efficacy banyak dipakai untuk memperbaiki kesulitan dan adaptasi tingkah laku orang yang mengalami berbagai masalah behavioral. Keempat sumber itu diubah dengan berbagai strategi yang diringkas dalam tabel diatas.
Efikasi Diri sebagai Prediktor Tingkah laku
Menurut Bandura, sumber pengontrol tingkah laku adalah resiprokal antara lingkungan, tingkah laku, dan pribadi. Efikasi diri merupakan variabel pribadi yang penting, yang kalau digabung dengan tujuan-tujuan spesifik dan pemahaman mengenai prestasi, akan menjadi penentu tingkah laku mendatang yang penting. Berbeda dengan konsep-diri (Rogers) yang bersifat kesatuan umum, efikasi diri bersifat fragmental. Setiap individu mempunyai efikasi diri yang berbeda-beda pada situasi yang berbeda, tergantung kepada :
  1. Kemampuan yang dituntut oleh situasi yang berbeda itu.
  2. Kehadiran orang lain, khususnya saingan dalam situasi itu.
  3. Keadaan fisiologis dan emosional ; kelelahan, kecemasan, apatis, murung.
Efikasi yang tinggi atau rendah, dikombinasikan dengan lingkungan yang responsif atau tidak responsif, akan menghasilkan empat kemungkinan prediksi tingkah laku (Tabel)
Table Kombinasi Efikasi dengan Lingkungan sebagai Prediktor Tingkahlaku
Efikasi
Lingkungan
Prediksi hasil tingkah laku
Tinggi
Responsif
Sukses, melaksanakan tugas yang sesuai dengan kemampuannya
Rendah
Tidak responsif
Depresi, melihat orang lain sukses pada tugas yang dianggapnya sulit
Tinggi
Tidak responsif
Berusaha keras mengubah lingkungan menjadi responsif, melakukan protes, aktivitas social, bahkan memaksakan perubahan.
Rendah
Responsif
Orang menjadi apatis, pasrah, merasa tidak mampu
Efikasi Kolektif (Collective Efficacy)
Keyakinan masyarakat bahwa usaha mereka secara bersama-sama dapat menghasilkan perubahan social tertentu, disebut efikasi kolektif. Ini bukan ‘jiwa kelompok’ tetapi lebih sebagai efikasi pribadi dari banyak orang yang bekerja bersama. Bandura berpendapat, orang berusaha mengontrol kehidupan dirinya bukan hanya melalui efikasi diri individual, tetapi juga melalui efikasi kolektif. Misalnya, dalam bidang kesehatan, orang memiliki efikasi diri yang tinggi untuk berhenti merokok atau melakukan diet, tetapi mungkin memiliki efikasi kolektif yang rendah dalam hal mengurangi polusi lingkungan, bahaya tempat kerja, dan penyakit infeksi. Efikasi diri dan efikasi kolektif bersama-sama saling melengkapi untuk mengubah gaya hidup manusia. Efikasi kolektif timbul berkaitan dengan masalah-masalah perusakan hutan, kebijakan perdagangan internasional, perusakan ozone, kemajuan teknologi, hukum dan kejahatan, birokrasi, perang, kelaparan, bencana alam, dan sebagainya.
DINAMIKA KEPRIBADIAN
            Dalam teori belajar sosial, Bandura menempatkan motivasi sebagai dinamika keperibadian. Motivasi, menurut Bandura adalah konstruk kognitif yang mempunyai dua sumber, yakni harapan individu mendapatkan reinforsement pada masa yang akan datang memotivasi individu untuk bertingkah laku tertentu. Dan, dengan menetapkan tujuan atau tingkat performasi yang diinginkan, bertindak pada tingkat tertentu. Untuk meningkatkan performasi, maka individu harus menjalani serangkaian tujuan yang berurutan yang memungkin evaluasi diri segera daripada menetapkan tujuan yang jauh dan membutuhkan waktu lama mencapainya. Jadi, terus-menerus mengamati, memikirkan, dan menilai tiingkah laku diri, akan memberi insentif-diri sehingga bertahan dalam berusaha mencapai standar yang telah ditentukan.
            Proses belajar yang dikemukakan Bandura tidak hanya terletak pada satu penguatan. Ada tiga penguat yang menjadi motivasi individu yang dapat membentuk proses belajar, yaitu:
1.      Penguatan yang diwakilkan (vicarious reinforcement), mengamati orang lain yang mendapat penguatan, membuat individu ikut puas dan berusaha belajar giih agar menjadi seperti orang tersebut.
2.      Penguatan yang ditunda (expectation reinforcement), individu terus-menerus berbuat tanpa mendapat penguatan, karena yakin akan mendapatkan penguatan pada masa yang akan datang.
3.      Tanpa penguatan (beyond reinforcement), belajar tanpa ada reinforsement sama sekali, mirip dengan konsep otonomi fungsional dari Alport.
Espektasi penguatan dapat dikembangkan dengan mengenali dampak dari tingkah laku. Individu mengembangkan standar pribadi berdasarkan standar sosial melalui interaksinya dengan orang tua, guru, dan teman sebayanya. Individu dapat mengganjar dan menghukum tingkah laku sendiri dengan menerima diri atau mengkritik diri. Penerimaan dan kritik diri sangat besar perannya dalam membimbing tingkah laku, sehingga tingkah laku individu tetap konsisten, tidak berubah akibat lingkungan sosial.


PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
1.      Belajar Melalui Observasi
Menurut Bandura, belajar lebih banyak terjadi tanpa penguatan (reinforcement) yang nyata. Belajar melalui observasi jauh lebih efisien dibanding belajar melalui pengalaman langsung karena melalui observasi orang dapat memperoleh respon yang tidak terhingga, yang mungkin diikuti dengan hubungan atau penguatan. Seseorang dapat mempelajari respon baru dengan melihat respon orang lain, bahkan belajar tetap terjadi tanpa ikut melakukan hal yang dipelajari itu. Terdapat dua cara dalam belajar melalui observasi, yaitu:
a.         Peniruan (Modelling)
Inti dari belajar melalui observasi adalah modeling. Peniruan atau meniru sesungguhnya tidak tepat untuk mengganti kata modeling, karena modeling bukan sekedar menirukan atau mengulangi apa yang dilakukan model (orang lain). Tingkah laku manusia bukan semata–mata bersifat refleks atau otomatis, melainkan juga merupakan akibat dari reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif.
Menurut Bandura, sebagian besar tingkah laku manusia dipelajari melalui peniruan (imitation) maupun penyajian contoh perilaku (modelling). Penelitian terhadap 3 kelompok anak taman kanak-kanak: Kelompok pertama disuruh mengobservasi model orang dewasa yang bertingkah laku agresif, fisik dan verbal, terhadap boneka karet. Kelompok kedua diminta mengobservasi model orang dewasa yang duduk tenang tanpa menaruh perhatian terhadap boneka karet didekatnya. Kelompok ketiga menjadi kelompok kontrol yang tidak ditugasi mengamati dua jenis model itu. Ketiga kelompok anak itu kemudian dibuat mengalami frustasi ringan dan setiap anak sendirian ditempatkan di kamar yang ada boneka karet seperti yang dipakai penelitian. Ternyata tingkah laku setiap kelompok cenderung mirip dengan tingkah laku model yang diamatinya. Kelompok pertama bertingkah laku lebih agresif terhadap boneka dibanding kelompok lain. Kelompok kedua sedikit lebih agresif dibanding kelompok kontrol.
Sebagai contoh lain, orang tua dan guru memainkan peranan penting sebagai seorang model atau tokoh bagi anak dalam menirukan perilaku membaca. Anggota keluarga yang sering dilihat oleh anak ketika sedang membaca atau memegang buku di rumah akan merangsang anak untuk mencoba mengenal buku.
b.      Modeling Tingkah Laku Baru
Melalui modeling orang dapat memperoleh tingkah laku baru. Ini dimungkinkan karena adanya kemampuan kognitif. Stimuli berbentuk tingkah laku model ditransformasi menjadi gambaran mental, dan yang lebih penting lagi ditransformasi menjadi simbol verbal yang dapat diingat kembali suatu saat nanti. Keterampilan kognitif yang bersifat simbolik ini, membuat orang dapat mentransform apa yang dipelajarinya atau menggabung-gabung apa yang diamatinya dalam berbagai situasi menjadi pola tingkah laku baru.
2.      Modeling Mengubah Tingkahlaku Lama
Disamping dampak mempelajari tingkah laku baru, modeling mempunyai dua macam dampak terhadap tingkah laku lama. Pertama, tingkah laku model yang diterima secara sosial dapat memperkuat respon yang sudah dimiliki pengamat. Kedua, tingkah laku model yang tidak diterima secara sosial dapat memperkuat atau memperlemah pengamat untuk melakukan tingkah laku yang tidak diterima secara sosial, tergantung apakah tingkah laku model itu diganjar atau dihukum. Kalau tingkah laku yang tidak dikehendaki itu justru diganjar, pengamat cenderung meniru tingkah laku itu, sebaliknya kalau tingkah laku yang tidak dikehendaki itu dihukum, respon pengamat menjadi semakin lemah.
a.       Modeling Simbolik
Dewasa ini sebagian besar modeling tingkah laku berbentuk simbolik. Film dan televisi menyajikan contoh tingkah laku yang tak terhitung yang mungkin mempengaruhi pengamatnya. Sajian itu berpotensi sebagai sumber model tingkah laku.
b.      Modeling Kondisioning
Pengamat mengobservasi model tingkah laku emosional yang mendapat penguatan muncul respon emosional yang sama dalam diri pengamat, dan respon itu ditujukan kepada obyek yang ada di dekatnya atau yang dianggap mempunyai hubungan dengan obyek yang menjadi sasaran. Contoh: emosi marah yang muncul ketika seorang anak menonton film yang isinya ibu tiri yang jahat dan anak kandungnya. Sehingga dilampiaskan kepada siapa saja yang ada di dekatnya. Contoh lainnya yaitu emosi seksual yang timbul akibat menonton film cabul dilampiaskan ke obyek yang ada di dekatnya saat itu (misalnya: menjadi kasus pelecehan dan perkosaan anak).
Faktor-Faktor Penting dalam Belajar Melalui Observasi
Menurut bandura, ada empat proses yang penting agar belajar melalui observasi dapat terjadi, yaitu:
1)      Perhatian (attention process): Sebelum meniru orang lain, perhatian harus dicurahkan kepada orang tersebut. Perhatian ini dipengaruhi oleh asosiasi pengamat dengan modelnya, sifat model yang atraktif, dan arti penting tingkah laku yang diamati bagi si pengamat.
2)      Representasi (representation process): Tingkah laku yang akan ditiru, harus disimbolisasikan dalam ingatan. Baik dalam bentuk verbal maupun dalam bentuk gambaran/imajinasi. Representasi verbal memungkinkan orang mengevaluasi secara verbal tingkah laku yang diamati, dan menentukan mana yang dibuang dan mana yang akan dicoba dilakukan. Representasi imajinasi memungkinkan dapat dilakukannya latihan simbolik dalam pikiran, tanpa benar–benar melakukannya secara fisik.
3)      Peniruan tingkah laku model (behavior production process): sesudah mengamati dengan penuh perhatian, dan memasukkannya ke dalam ingatan, seseorang lalu bertingkah laku. Berkaitan dengan kebenaran, hasil belajar melalui observasi tidak dinilai berdasarkan kemiripan respon dengan tingkah laku yang ditiru, tetapi lebih pada tujuan belajar dan efikasi dari pembelajar.
4)      Motivasi dan penguatan (motivation and reinforcement process): Observasi mungkin memudahkan orang untuk menguasai tingkah laku tertentu, tetapi jika motivasi tidak ada, maka tidak akan terjadi proses belajar tingkah laku. Imitasi tetap terjadi walaupun model tidak diganjar, sepanjang pengamat melihat model mendapat ciri-ciri positif yang menjadi tanda dari gaya hidup yang berhasil, sehingga diyakini model umumnya akan diganjar.
Motivasi banyak ditentukan oleh kesesuaian antara karakteristik pribadi pengamat dengan karakteristik modelnya. Ciri-ciri model seperti usia, status sosial, seks, keramahan, dan kemampuan, pening dalam menentukan tingkat imitasi. Anak lebih senang meniru model sesusilanya daripada model dewasa. Anak juga cenderung meniru model yang standar prestasinya dalam jangkauannya, alih-alih model yang standarnya di luar jangkauannya. Imitasi juga dipengaruhi oleh interaksi antara ciri model dengan observernya. Anak cenderung mengimitasi orang tuanya yang hangat dan open (jw), gadis lebih mengimitasi ibunya.
Dampak Belajar
Setiap kali respons dibuat, akan diikuti dengan berbagai konsekuensi; ada yang konsekuensinya menyenangkan, ada yang tidak menyenangkan, ada yang tidak masuk kekesadaran. Penguatan -baik positif maupun negatif- dampaknya tidak otomatis sejalan dengan konsekuensi respons. Konsekuensi dari suatu respons mempunyai tiga fungsi:
a.       Pemberi informasi: memberi informasi mengenai dampak dari tingkah laku informasi ini dapat disimpan untuk dipakai membimbing tingkah laku pada masa yang akan datang.
b.      Memotivasi tingkah laku yang akan datang: Menyajikan data sehingga orang dapat membayangkan secara simbolik hasil tingkah laku yang akan dilakukannya, dan bertingkah laku sesuai dengan peramalan-peramalan yang dilakukannya. Dengan kata lain, tingkah laku ditentukan atau dimotivasi oleh masa yang akan datang, di mana pemahaman mengenai apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang itu diperoleh dari pemahaman mengenai konsekuensi suatu tingkah laku.
c.       Penguat tingkah laku: Keberhasilan akan menjadi penguat sehingga tingkah laku menjadi diulangi, sebaliknya kegagalan akan membuat tingkah laku cenderung tidak diulang.
APLIKASI
Psikopatologi
Bandura sependapat dengan Eysenck dan Wolpe bahwa terapi tingkah laku dapat efektif mengurangi reaksi kecemasan. Dia tidak percaya bahwa tekanan emosional menjadi elemen kunci penyebab reaksi takut yang berlebiihan, sehingga harus dihilangkan agar tingkahlaku dapat berubah. Menurutnya, masalah pokoknya adalah orang peraya bahwa dirinya tidak dapat menangani situasi terrtentu seaara efektif. Karena itu perlu dikembangkan self-efficacy, agar terjadi perubahan tingkah laku. Konsep determinis resiprokal menganggap perubahan tingkah laku.sebagai akibat dari interaksi antara pribadi-tingkahlaku-lingkungan, termasuk tingkahlaku yang menyimpang. Tingkah laku patologis itu dipengaruhi oleh faktor kognitif, proses neurofisiologis, pengalaman masa lalu yang mendapat penguatandan nilai fasilitatif dari lingkungan.
  1. Reaksi Depresi: Standar pribadi dan penetapan tujuan yang terlalu tinggi, membuat orang rentan mengalami kegagalan, dan akan berakibat orangmengalami depresi. Sesudah dalam keadaan depresi, orang menilai rendah prestasi dirinya, sehingga "keberhasilan" tetap dipandangsebagai kegagalan. Akibatnya, terjadi kesengsaraan yang kronis, merasatidak berharga, tidak mempunyai tujuan, dan depresi yang mendalam.Penderita depresi melakukan regulasi diri - pengamatan diri, prosespenilaian, reaksi diri - dengan cara yang salah. Ketika mengamati dirisendiri, penderita depresi menilai salah performansinya, atau mengaburkaningatan prestasinya yang telah lalu. Mereka meremehkan (underestimate)keberhasilannya sendiri, sebaliknya melebih-lebihkan (overestimate)kegagalan yang dilakukannya. Dalam proses penilaian, penderita depresimemasang standar yang sangat tinggi sehingga apapun pencapaian yangdiperoleh dinilai sebagai kegagalan, bahkan ketika orang lain memandang dia sangat berhasil, dia tetap menghina prestasinya sendiri. Penderita menempatkan standar dan tujuan terlalu tinggi di ataskesadaran efikasi dirinya. Ketika melakukan reaksi diri, penderita depersi mengadili dirinya secara kasar, buruk, lebih-lebih terhadap kekurangan dirinya. Mereka menghukum diri sendiri secara berlebihan terhadap perfomansi diri yang kurang baik.
  2. Fobia: perasaan takut yang sangat kuat dan mendalam, sehinggaberdampak buruk terhadap kehidupan sehari-hari seseorang. Begitu mendalamnya perasaan takut itu, sehingga obyek penyebabnya menjadi kabur, obyek itu digeneralisasikan secara salah. Bandura mengemukakan bahwa media seperti televisi, surat kabar tanpa sengaja menciptakan fobia.Ceriat seram perkosaan, kekejaman perampok, pembunuhan berantai, meneror masyarakat sehingga mereka (yang sebagian besar tidak pernah mengalami hal itu) tetap merasa tidak aman walaupunpintu-pintu rumah telah terkunci rapat-rapar.  Fobia dipelajari dari pengamat lingkungan, menjadi eksis akibat efisikasi diri yang yang rendah, orang merasa tidak mampu menangani suatu masalah yang mengancamsehingga muncul perasaan takut yang kronis.
  3. Agresi: MenurutBandura, agresi diperoleh melalui pengamatan, pengalaman langsung dengan reinforsemen positif dan negatif, latihan atau perintah, dan keyakinan yang ganjil (bandingkan dengan Freud , dan kawan-kawannya yang menganggap perilaku agresi adalah dorongan bawaan). Agresi yang ekstrim menjadi disfungsi atau salah sesuai psikologis. Dari penelitian yang dilakukan Bandura, observasi terhadap perilaku agresi akan mengahsilkan respon peniruan yang berlebih. Pengamat akan bertingkah laku lebih agresif dibandingkan modelnya.
Psikoterapi
Sama halnya dengan respon emosiyang dapat diperoleh secara langsungatau secara vicarious, menghilangkan tingkah laku (yang tidak dikehendaki)dapat dilakukan secara langsung atauvicarious pula. Penakut dapat mengubah rasa takutnya dengan melihat model yang tanpa rasa takut berinteraksi dengan hal yang ditakutkanitu.
Secara umum, terapi yang dilakukan Banduraadalah terapi kognitif-sosial. Tujuannya untuk memperbaiki regulasi self, melalui pengubahan tingkatandan mempertahankan perubahan tingkahlaku yang terjadi. Ada tiga tingkatan keefektifan suatu tritmen yakni; tingkat induksi perubahan, generalisasi, dan pemeliharaan.
  1. Tingkat induksi perubahan: tritmendikatakan efektif kalau dapatmengubah tingkahlaku. Misalnya terapi menghilangkan takut ketinggianpenderita akrofobia, sehingga dia berani naik tangga yang tinggi.
  2. Tingkat Generalisasi: tritmen yang lebih tinggi, memungkinkan terjadinyageneralisasi. Penderita akrofobia itu bukan hanya berani naik tangga,dia juga berani naik lift, naik kapal terbang, dan membersihkan kacagedung bertingkat.
  3. Tingkat Pemeliharaan: Sering terjadi tingkahlaku positif hasil terapi berubahkembali menjadi tingkahlaku negatif (khususnya pada tingkahlaku habitnegatif, merokok, alkoholik, narkotik). Terapi mencapai tingkat efektifyang tertinggi kalau hasil induksi dan generaslisai dapat terpelihara, tidak berubah menjadi negatif.
Bandura mengusulkan tiga macam pendekatan tritmen, yakni; latihanpenguasaan (desensitisasi modeling), modeling terbuka, dan modelingsimbolik.
  1. Latihan penguasaan (desensitisasi modeling): mengajari klien untukmenguasai tingkahlaku yang sebelumnya tidak bisa dilakukan (misalnyakarena takut). Tritmen konseling dimulai dengan membantu klien mencapai relaksasi yang mendalam. Kemudian konselor meminta klienmembayangkan hal yang menakutkannya secara bertahap. Misalnyadibayangkan melihat ular mainan di etalase toko. Kalau kliendapat membayangkan kejadian itu tanpa rasa takut, mereka dimintamembayangkan bermain-main dengan ular mainan, kemudian melihatular dikandangkebun binatang, kemudian menyentuh ular sampaiakhirnya menggendong ulat. Ini adalah model desensitisasi sistematik. Bandura memakal desensitisasi sistematik itu dalam pikiran (karena itu teknikini terkadang disebut: modeling kognitif)tanpamemakai penguatan yang nyata.
  2. Modeling terbuka (modeling partsipan): Klien melihat model nyata,biasanya diikuti dengan klien berpartisipasi dalam kegiatan model, dibantu oleh modelnya meniru tingkahlaku yang dikehendaki, sampai akhirnyamampu melakukan sendiri tanpa bantuan.
  3. Modeling simbolik klien melihat model dalam film atau gamba cerita.Kepuasan vikarious (melihat mendapat penguatan) mendorongklien untuk mencoba meniru tingkahlaku modelnya.
Ketika hasilnya dibandingkan desensitisasi modeling dan modelingsimbolik relatif sama kekuatannya untuk menghilangkan tasa takut.Namun yang paling berhasil menghilangkan rasa takut adalah modeling partisipan.
Metodologi
Bandura banyak meneliti masalah dunia nyata dalam laboratorium, seperti masalah agresi, fobia, penyembuhan dari serangan jantung perolehan, kemampuan matematik pada anak. Tujuan pokoknya adalah untuk menyatukankerangka konseptual yang dapat mencakup berbagai hal yang mempengaruhiperubahan tingkahlaku. Dalam setiap kegiatan ketrampilan dan keyakinan diri yang menjamin pemakaian kemampuan secara optimal dibutuhkan agar diri dapat berfungsi sukses.
Bandura mengembangkanmicroanalyticapproach: riset yangmementingkan asesmen yang detilsepanjang waktu untuk mencapai keselarasan antarapersepsi diri dengan tingkah laku pada setiap tahapperformansi tugas. Teknik ini cocok untuk strategi penelitian yang melacakperubahan setiap saat, penelitian yang menganalisis proses, bukan hasil.




DAFTAR PUSTAKA
Alwilsol, Psikologi Kepribadian, Edisi Revisi, Malang: UMM Press, 2009.
Alwilsol, Psikologi Kepribadian, Edisi Revisi, Malang: UMM Press, 2014.
Anggun, Dwi, “Teori Kepribadian Albert Bandura”, 25 Oktober 2016, http://anggundwi861.blogspot.co.id/2016/10/teori-kepribadian-albert-bandura.html, diakses pada 30 April 2017.
Munaza, Azka, “Teori Kepribadian Albert Bandura”, 23 Juni 2016, http://justalittlescience.wordpress.com/2016/06/23/teori-kepribadian-albert-bandura/, diakses pada 30 April 2017.

Pane, Hermain“ Biografi Albert Bandura”, 19 November 2014, www.psychoshare.com/file-1706/tokoh-psikologi/biografi-albert-bandura.html, diakses pada 30 April 2017.






Disusun oleh: M. Andy Irfani, Rizka Hanny S., Agasari Puspita, Nadya Salsabila, Yunanda Rizqia B.