playlist

Sunday, 10 September 2017

Ringkasan: Sumber Hukum Islam

Ringkasan.
SUMBER HUKUM ISLAM
BAB IV
A.    Pengertian sumber hukum islam (Dalil)
Dalil menurut bahasa adalah “petunjuk terhadap sesuatu yang baik konkrit maupun maknawi; baik petunjuk kepada kebaikan maupun pada keburukan. Menurut ketetapan ahli fikih, dalil adalah sesuatu yang menurut pemikiran yang sejahtera menunjukkan pada Hukum Syara’ yang amali, baik dengan jalan pasti (yakin) ataupun dengan jalan dugaan kuat.

B.     Pembagian (klasifikasi) Dalill
Pembagian atau klasifikasi dalil (sumber hukum islam), dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu :
1.      Dari segi asalnya :
a.       Dalil Naqly (nas), yaitu nas ayat al-qur’an dan al-hadits/sunnah.
b.      Dalil Aqly (Ra’yu). Dalil ini disebut juga dengan ijtihad, baik ijtihad perseorangan maupun kolektif (ijma’)
2.      Dari segi daya cakupnya :
a.       Dalil Kully, yakni dalil yang isinya mencakup banyak satuan hukum, bahkan mencakup sebagian besar hukum yang sejenis.
b.      Dalil juz’I (Tafsily), yakni dalil yang hanya menunjuk pada satuan hukum saja.
3.      Dari segi kekuatannya:
a.       Dalil Qat’I, yakni dalil yang mendatangkan keyakinan (kepastian) :
1)      Qat’I Wurudnya atau Subutnya (cara datangnya atau penetapannya), ialah dalil yang diyakini (dipastikan) datangnya dari pembuat syara’, dengan jalan mutawatir.termasuk al-Qur’an, Hadits Mutawatir dan Hadits Masyhur.
2)      Qat’I Dalalahnya ialah dalil tyang lafadz dan susunan ketanya tegas dan jelas menunjukkan arti dan maksud tertentu.
b.      Dalil zanni, yakni yang mendatangkan dugaan dengan kuat :
1)      Zanni Wurudnya atau Subutna, ialah dalil yang diduga keras datangnya dari pembuat syara’, yaitu yang diriwayatkan dari jalan ahad. Misal : hadits ahad.
2)      Zanni Dalalahnya, ialah dalil ynng lafadz atau susunan katanya tidak jelas & tidak pula tegas menunjukkan pada arti da maksud yang tertentu.

C.    Perincian Dalil-Dalil Syarat
Yang dimaksud perincian dalil-dalil syara’ adalah macam-macam dalil yang digunakan oleh para 4 ulama madzhab.
a.       Imam Hanafi
Dalil-dalil yang digunakan adalah:
1)      Kitabullah/al-Qur’an
2)      As-Sunnah
3)      Al-Ijma’
4)      Al-Qiyas
5)      Istihsan
6)      ‘Urf
b.      Imam Syafi'i
Dalil-dalil yang digunakan adalah:
1)      Kitabullah/al-Qur’an
2)      As-Sunnah
3)      Al-Ijma’
4)      Al-Qiyas atau istidlal
c.       Imam Malik
Dalil-dalil yang digunakan adalah:
1)      Kitabullah/al-Qur’an
2)      Sunnah Rasul yang sah
3)      Amal penduduk Madinah (Ijma’ ahli Madinah)
4)      al-Qiyas
5)      Mashlahah mursalah/ istishlah
d.      Imam Ahmad
Dalil-dalil yang digunakan adalah:
1)      Nas
a)      Kitabullah/al-Qur’an
b)      Hadis marfu’
2)      Fatwa sahabat/ijma’ sahabat
3)      Hadis mursal/hadis dhaif (maksudnya hadis hasan)
4)      Qiyas (di kala dharurat)
Menurut Abdul Wahhab Khallaf, di antara ke empat imam madzhab, hukum-hukum yang disepakati adalah:
1.      Kitabullah/al-Qur’an
2.      As-Sunnah
3.      Al-Ijma’
4.      Al-Qiyas
Penggunaan empat dalil tersebut berdasarkan firman Allah SWT.
Adapun Mahmud Syaltout berpendapat bahwa dalil syar’i itu ada 3; al-Qur’an, as-Sunnah, dan ar-Ra’yu. Adapun ar-ra’yu ini didasari oleh hadis taqriry Rasulullah terhadap pernyataan Muadz yang akan menggunakan ra’yi sebagai landasan dalil ketika tidak ada  Nas dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Semua dalil harus sesuai  dengan al-Qur’an, karena pada hakikatnya hukum asal itu adalah al-Qur’an.

D.    Al-Qur’an/Kitabullah
a.       pengertian
Al-Qur’an adalah: kalamullah yang diturunkan kepada Muhammad Saw., ditulis dalam mushaf yang menggunakan Bahasa Arab, yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir, yang dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas.

b.      kedudukan al-Qur’an sebagai dalil dan kehujjahannya.
Dari segi kedudukan, al-Quran telah disepakati oleh para ulama sebagai suber pertama dari segala dalil, bahkan bisa disebut sebagai satu-satunya dasar, karena dasar yang lain juga akan berujung pada al-Qur’an.
Adapun dari segi kehujjahan, al-qur’an adalah hujjah yang paling kuat. Penetapan hukum dengan dalil al-Qur’an tidak memerlukan bukti, alasan, atau keterangan apapun. Bahkan al-Qur’an telah menyebtukan penawaran untuk berkompetensi dalam menyaingi isi al-Qur’an, ancaman bagi orang yang menentang kerasulan Muhammad hingga tidak adanya kesanggupan orang musyrik untuk membandingi kemahiran tata Bahasa dalam al-Qur’an.

E.     As-Sunnah atau al-Hadits
1.      Pengertian as sunnah
Menurut bahasa adalah jalan yang ditempuh, perbuatan yang senantiasa dilakukan, adat kebiasaan, sebagai lawan kata dari bid’ah.
Sedangkan menurt istilah
a.       Menurut ahli fiqih : sesuatu perbuatan yang jika ikerjakan akan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa.
b.      Menurut ahli hadits: semua perkataan, perbuatan atau keadaan nabi Muhammad saw
c.       Menurut ahli ushul fiqih : semua perkataan, perbuatan, atau ketetapan Nabi saw yang berhubungan dengan pembentukan huukum.
2.      Pembagiaan as-sunnah dan al-hadits
a.       Ditinjau dari segi sift pembentukannya, yaitu qauliyah (perkataan), fi’liyah (perbuatan), taqririyah (ketetapan), dan hammiyah (keinginan), sunnah tarkiyah (hal yang ditinggalkan oleh nabi)
b.      Ditinjau dari segi jumlah bilangan perawinya, yaitu mutawatir, masyhur, dan ahad
c.       Ditinjau daei segi sandarannya kepada nabiNabi saw, yaitu marfu’, mauquf, dan maqtu’.
d.      Ditinjau dari segi nilainya, yaitu sahih, hasan, dan da’if.
3.      Kedudukan dan kehujjahan as-sunnah
a.       Kedudukannya, as sunnah sebagai dasar hukum (dalil) menduduki urutan yang kedua setelah al-qur’an.
b.      Kehujjahannya, as-sunnah menjadi huujjah, menjadi sumber hukum dan menjadi tempat mengistinbatkan hukum syara’
4.      Fungsi assunnah dalam menetapkan huku, diantaranya menguatkan hukum yang telah disyari’atkan dalam al-qur’an, menerangkan apa yang telah disyari’atkan dalam al-qr’an, dan mensyari’atkan hukum yang didiamkan oleh al-qur’an.
5.      Perbedaan pendapat dalam menilai as-sunnah
Sebagian kecil ulama menolak sebagai dasar sumber hukum dengan alasan tertentu, jumhur ulama menerima sebaai sumber hhukum, hanya saja di antara mereka ada yang hanya menerima hadits mutawatir saja, ada yang menerima sunnah ahad dengan mengemukakan beberapa syarat.

F.     Al-Ijtihad
1.      Pengertian ijtihad
Menurut bahasa adalah pncurahan segenap kesanggupan untuk mendapatkan sesuattu urusan atau sesuatu perbuatan. Sedangkan menurt istilah adalah pencurahan segenap kemampuan secara maksimal untuk mendapatkan hukum syara’ yang amali dari dalil-dalilnya yang tafsili.
2.      Dalil—dalil sebagai dasar tasyri’, yaitu Al-qur’an surat an-Nisa’ (4), ayat 59, as-sunnah yang diriwayatkan oleh al—Bagawi dari Muaz ibn Jabbal, dan akal.
3.      Syarat-syarat melakukan ijtihad
a.        mengetahui dngan baik bahasa arab dalam segla seginya
b.      Mengetahui dengan baik isi al-qur’an, terutama ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah amali
c.       Mengetahui dengan baik sunnah rasul yyang berhubungan dengan hukum
d.      Mengetahui masalah-masalah hukum yang telah menjadi ijma’ para ulama sebelumnya
e.       Mengetahui ushul fiqih
f.       Mengetahui kaidah fiqih
g.      Mengetahui maksud-maksud syara’
h.      Mengetahui rahasia-rahasia syara’
i.        Orang yang melkukan ijtihad itu mempunyai sifat adil, jujur, dan berbudi pekerti terpuji.
j.        Mempunyai niat yang suci dan yang benar.
4.      Tingkatan-tingkatan nujtahid
a.       Mujtahid fi asy-syar’I,
b.      Mujtahid muntasib
c.       Mujtahid fi al-Madzhab
d.      Mujtahid Murajih
5.      Jalan atau cara ijtihad
Menurut Abdul Wahhab Khallaf : yaitu al-qiyas, al-istihsan, al-iatislah, dan lainnya yang direstui oleh syara’ untuk mengistinbatkan hukum bagi masalah yang tidak ada nashnya.
Jalan atau cara ijtihad:
a.       Ijma’
b.      Qiyas
c.       Istihsan
d.      Istislah atau maslahah mursalah
e.       Urf
f.       Istishab
g.      Syar’u man qablana
h.      Saddu az zari’ah


Disusun oleh: Tata Puspita

Sumber Referensi:

Fathurohman, Oman, PENGANTAR ILMU FIQH USUL FIQH, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 1993.

Friday, 8 September 2017

Masjid dan Bakul Keramat : Konflik dan Integrasi dalam Masyarakat Bugis Amparita

RESUME BUKU ATHO MUDZHAR BAB V
Disusun oleh: Tata Puspita
Masjid dan Bakul Keramat : Konflik dan Integrasi dalam Masyarakat Bugis Amparita
            Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang sifatnya multi-dimensional biasanya ditimbulkan oleh perbedaan suku, tingkat sosial, pengelompokkan organisasi politik, agama, dan sebagainya. Pada studi kasus yang berlokasi di Amparita, sebuah desa di Sulawesi Selatan ini merupakan penelitian dengan tujuan memahami konflik dan integrasi sosial antara kelompok-kelompok sosial yang ada pada desa tersebut diketahui bermula dari adanya perbedaan agama. Relevansi studi-studi tentang konflik dan integrasi sosial berusaha mengetahui faktor apa saja yang dapat menyebabkan keduanya terjadi. Pengertian konflik ialah pertentangan antara 2 kelompok sosial atau lebih, atau potensialitas yang mendorong ke arah pertentangan. Sedangkan maksud integrasi adalah proses 2 kelompok sosial atau lebih menjadi terpadu sehingga memberikan kebersamaan dan kesatuan.
            Amparita adalah desa sekaligus Ibukota Kecamatan Tellu LimpoE, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Bukit-bukit kecil gundul yang memanjang mengelilingi desa ini dari arah utara ke selatan. Terdapat 3 kelompok sosial di Amparita yang masing-masing berbeda konsep dan sistem keagamaan, yaitu : 1) kelompok Islam yang mempercayai adanya Tuhan Yang Maha Esa dan sangat tidak senang melihat orang menyembah batu-batuan, kuburan, dan sebagainya., 2) kelompok Towani Tolontang mempunyai konsep ketuhanan Dewata Seuwae, ritusnya dengan menyembah kuburan nenek moyang dan batu-batuan., 3) Tolotang Benteng yang kepercayaan dan ritusnya sama seperti Towani Tolotang, tetapi secara formal mengaku Islam.
            Terjadi konflik antara ketiga kelompok diatas walaupun berbeda intensitasnya. Konflik antara kelompok Islam dan Towani Tolotang lebih keras daripada antara Islam dan Tolotang Benteng atau antara Towani Tolotang dan Tolotang Benteng. Konflik sosial antara Islam dan Towani Tolotang bermula dari soal keagamaan (upacara kematian, 1944) yang kebetulan menyangkut siri (harga diri). Kemudian berlanjut dan tertunjang oleh faktor politik  pada masa pemberontakan DI/TII (1951-1957), masa penumpasan G30S/PKI (1965-1966), dan masa operasi ”Maili sipakaenga” (1967). Adapun konflik antara kelompok Islam dan Tolotang Benteng baru tampak nyata pada penumpasan G30S/PKI. Sedangkan konflik antara kelompok Towani Tolotang dan Tolotang Benteng juga bermula pada tahun 1944 ketika terpecah untuk menepati atau tidak menepati perjanjian mereka dengan Sri Raja Sidenreng La Cibu tentang penyelenggaraan upacara perkawinan dan kematian secara islam.
            Aspek-aspek yang mendorong konflik sosial dewasa ini yaitu : aspek sejarah asal-usul masing-masing kelompok, aspek kepercayaan dan pandangan, aspek makanan, aspek perkawinan, aspek penyelenggaran pendidikan, aspek pimpinan konflik pada masa lalu, Towani Tolotang sebagai persoalan hukum yang mana statusnya tidak menentu, dan aspek ‘sikap mental’ yang masih penuh kecurigaan dan kurang pengertian antara masing-masing kelompok. Lain halnya dengan konflik, menjelang pemilu 1971 mulai berhasil tampak adanya usaha untuk mengintegrasikan ketiga kelompok tersebut tepatnya setelah Towani Tolotang menyatakan diri masuk Golkar.  Dimasa itu partai Golkar bisa disebut penguasa karena memiliki suara dukungan terbesar.
            Aspek-aspek pendorong yang dimanfaatkan bagi usaha-usaha integrasi itu adalah : kepercayaan tentang Gunung Lowa, kekayaan kebudayaan lama, pendidikan dalam arti yang umum, politik, pertanian, kekerabatan, lingkungan alam, dan lain-lain. Dari berbagai macam aspek tersebut aspek pertanian adalah yang paling mudah dilihat, tetapi pendorong integrasi terkuat terletak pada aspek politik. Faktor politik selalu cenderung untuk menjadi ‘panglima’ di atas permukaan baik keadaan konflik maupun integrasi, walaupun di bawah permukaan belum tentu.

            Kenyataan yang unik bahwa ketiga kelompok sosial yang ada di Amparita mempunyai pimpinan dan pandangan yang tidak sama. Tetapi, disisi lain mereka tinggal di satu desa dan rumah mereka berdekatan bahkan berdampingan. Mereka sama-sama petani dan letak sawah garapan mereka juga berdekatan. Mereka berkesukuan sama, mempunyai adat berpakaian yang sama, dan menggunakan bahasa yang sama. Demikianlah, mereka hidup di dalam perbedaan-perbedaan, namun dalam waktu yang sama mereka juga hidup dalam persamaan-persamaan.

Friday, 11 August 2017

ESSAY: Kinds of Psychological Disorders and Treatment Methods

BY:
Tata and Nadya 

Kinds of Psychological Disorders and Treatment Methods
Psychological disorder is the second leading cause of disability, after heart disease. When it comes for navigating personal relationships, it is our advantage to be sensitive of mental health issues. Our mental health, as well as the mental health of those we love, is crucial to the successful interaction. According to National Institute of Mental Health, around one from four adults in the United States is diagnosed for one or more psychological disorder in certain year. It is not easy to determine what it a psychological disorder is. The DSM-IV explains, "…the concept of mental disorder (like many other concepts in medicine and science) lacks a consistent operational definition that covers all situations." Psychologists define a psychological disorder broadly as a psychological dysfunction in an individual that is associated with distress or impairment and a reaction that is not cultural expected. Psychological dysfunction refers to the cessation of purposeful functioning of cognition, emotions, or behavior. The kinds of psychological disorders are anxiety disorders, mood disorders, schizophrenia, and personality disorders.
Every life is a mixture of positive and negative emotions. However many people experience excessive levels of the kinds of negative emotions that is we identify as being nervous, tense, worried, scared, and anxious. These terms all refer to anxiety. Ten to fifteen million Americans experience such uncomfortable and disruptive levels of anxiety that they are said to have anxiety disorders. Anxiety disorders take a variety of different forms that include Phobias (divided into simple phobia, social phobia, and agoraphobia), Generalized and Panic Anxiety Disorders, Obsessive-Compulsive Disorders, and Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Anxiety is a complex phenomenon having biological, psychological, and environmental causes. Within the vulnerability-stress model presented earlier, any of these factors can create predispositions to respond to stressors with an anxiety disorder (Beidel et al., 2007; Velotis, 2006). There is a woman who suffered Anxiety Disorders, Jessica May, but she was able to become a Successful Entrepreneur Originator of Specialized Companies with Disabilities, and she received an award from the Australian Government (News of Liputan6).
Another set of emotion-based disorders is mood disorders, which includes Depression (can occur alone or a condition known as major depression) and Mania/Bipolar (excessive excitement). Depression is more than just feeling “down.” It is a serious illness caused by changes in brain chemistry. The World Health Organization characterizes depression as one of the most disabling disorders in the world, affecting roughly one in five women and one in ten men at some point in their lifetime. Bipolar disorder, also known as manic depression, is a mental illness that brings severe high and low moods and changes in sleep, energy, thinking, and behavior. People who have bipolar disorder can have periods in which they feel overly happy and energized and other periods of feeling very sad, hopeless, and sluggish. Together with anxiety disorders, mood disorders are the most frequently experienced psychological disorders. There is high comorbidity (co-occurrence) involving anxiety and mood disorders. About half of all depressed people also experience an anxiety disorder. In the case of anxiety disorders, the mood disorders are a product of interacting biological, psychological, and environmental factors. There is a well-known figure who was also suffering from mood disorders, such as Jason Mraz suffering from Major Depression and Demi Lovato suffering from Bipolar Disorder.
Schizophrenia is a disease which causes the sufferer to believe something that actually never happened and hallucinations. Schizophrenia includes severe disturbances in thinking, speech, perception, emotion, and behavior (Herz & Marder, 2002).  Schizophrenia can affect emotions in a number of ways. Many people with schizophrenia have blunted affect, manifesting less sadness, joy, and anger than most people. Others have flat affect, showing almost no emotions at all. Their voices are monotonous, their faces impassive. There are four major subtypes of schizophrenia: Paranoid schizophrenia, Disorganized schizophrenia, Catatonic schizophrenia, and Undifferentiated schizophrenia. The cause of schizophrenia is not yet known, and research into it is happening all the time. But it is generally agreed that schizophrenia is caused by a combination of factors rather than a single one. Possible causes of schizophrenia are stressful life events, cannabis and other recreational drugs, and chemicals in the brain. Some studies suggest that physical differences in the brain, or injury to the brain, may be linked to schizophrenia.Other physical causes have also been suggested. Treatments that are recommended for schizophrenia include cognitive behavioural therapy (CBT), medication, family intervention, and arts therapies. Examples of people who have a schizophrenia is Eduard Einstein, son of famous physicist Albert Einstein. As quoted from page webcache.googleusercontent.com, Eduard was extremely intelligent and a successful student throughout his education. During his youth Eduard wanted to be a psychoanalyst but was began showing signs of schizophrenia by the age of 20. This led to him to be institutionalized several times. He died in an asylum at age 55 and his family lineage has been used to raise public awareness of schizophrenia.
The next is personality disorder. Personality disorders are a type of mental health problem where your attitudes, beliefs and behaviours cause you longstanding problems in your life. Your experience of personality disorder is unique to you. However, you may often experience difficulties in how you think about yourself and others. You may find it difficult to change these unwanted patterns. When they encounter situations in which their typical behavior patterns do not work, they are likely to intensify their inappropriate ways of coping, their emotional controls may break down, and unresolved conflicts tend to reemerge (Lenzenweger & Clarkin, 2005; Millon et al., 2004). Among the personality disorders, the most destructive to society is the antisocial personality disorder (Livesley, 2003). A second personality disorder that is attracting a great deal of current attention is the borderline personality disorder. What causes personality disorder? Most researchers think that a complex mix of factors is involved, such as: the environment people grow up in, early childhood and teenage experiences, genetic factors. There are a range of treatments that can help you if you experience a personality disorder: talking treatments, medication, having a say in your treatment. Examples of people who have a personality disorder is Angelina Jolie. As quoted from page www.healthyplace.com, Jolie voluntarily checked herself into a treatment facility in the late 1990s, claiming she had experienced both suicidal and homicidal thoughts. Although she had no intention of acting on these thoughts, she realized that she needed help. She was diagnosed with "presumptive borderline personality disorder".
According to the explanation above, there are many types of psychological disorders. include anxiety disorders, mood disorders, schizophrenia, and personality disorders. The disorder can be caused by many factors, such as biological factors, psychological factors, environmental factors, and socio-cultural factors.The impact of psychological disorders can inhibit the function of the daily life of the person concerned, for example, problems with relationships, can not work, physical health problems, and so on. Thus, there should be treatment of people with mental disorders. Medications, Psychotherapy, Talk therapy, Cognitive behavioral therapy, are often considered the benchmark therapy treatment for individuals living with mood and anxiety disorders. Dietary and Lifestyle changes, including improvements in sleeping and eating habits, physical activity and stress reduction have also proven very helpful in managing symptoms.
References:
Admin, “Depression: What Are Signs and Symptoms”,        http://mentalhealth.fitness/learn-about-your-diagnosis/depression/ (diakses            pada 1 April 2017).
Goldberg, Joseph, “Bipolar Disorders”, 21 November 2015,             http://www.webmd.com/bipolar-disorder/mental-health-bipolar-disorder#1        (diakses pada 1 April 2017).
Gregory, Christina, “Mood Disorders”, https://www.psycom.net/mood-disorders/  (diakses pada 1 April 2017).
Lahey, Benjamin B, Psychology an Introduction, second edition, United State of America: Wm. C. Brown Publisher, 1986.
Muliana, Vina A., “Jessica May, Pengusaha Sukses Pencetus Perusahaan Khusus   Difabel”, 26 Maret 2017,http://bisnis.liputan6.com/read/2898026/jessica-may-   pengusaha-sukses-pencetus-perusahaan-khusus-difabel(diakses pada 1 April   2017).
Parekh, Rana, “What Are Anxiety Disorders?”, January 2017,         http://www.psychiatry.org/patients-families/anxiety-disorders/what-are-   anxiety-disorders (diakses pada 1 April 2017).
Passer, Michael W dan Smith, Ronald E, Psychology The Science of Mind and      Behaviour, fourth edition, New York:Mc Graw-Hill, 2008.
Wahyuningsih, Agustin, “17 Artis dunia ini alami gangguan mental, tapi produktif &         legendaris!”, 15 Oktober 2015, https://www.brilio.net/life/17-artis-dunia-ini-   alami-gangguan-mental-tapi-produktif-legendaris-151014y.html (diakses pada 1 April 2017).
Croft, Harry, “Famous People with Personality Disorders”, 20 July 2016,   http://www.healthyplace.com/personality-disorders/personality-disorders-          information/famous-people-with-personality-disorders/, (diakses pada 3 April             2017).

Fescoe, Kristen, “20 Famous People with Schizophrenia”, November, 2015            http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:http://www.online-           psychology-degrees.org/20-famous-people-with-schizophrenia/, (diakses pada    3 April 2017).

Saturday, 17 June 2017

KESADARAN : OBAT-OBATAN YANG MEMPENGARUHI KESADARAN DAN HIPNOSIS




PENDAHULUAN
                Pawlik (1998) menganalogikan diterimanya kesadaran sebagai konstruk psikologi yang sah seperti peristiwa renaissance. Hal ini disebabkan riset mengenai hakekat, struktur dasar serta proses kesadaran pada saat ini telah menjadi satu topic hangat bagi psikologi teoretis dan eksperimen, neuropsikologi klinis dan eksperimen, neurosains, ilmu-ilmu kognitif serta filsafat (Pawlik 1998). Pickering (1999) menyatakan lebih tepat kalau kesadaran bukannya telah pulang kembali ke psikologi melainkan psikologi telah mendapatkan kembali kesadaran, sebab mengakui kesadaran qua pengalaman sebagai bidang kajian penelitian psikologi berarti menemukan kembali apa yang dipandang oleh Wilhelm Wundt dan William James sebagai fenomena pokok psikologi.
            Kesadaran memang telah menjadi satu konsep yang sering digunakan psikologi, namun kesadaran merupakan konsep yang membingungkan dalam ilmu pengetahuan mengenai pikiran (Chalmers, 1995). Salah satu penyebabnya adalah karena pengertian kesadaran sangat bervariasi sehingga tidak ada satu pengertian umum yang dapat diterima semua pihak (Bielecky,2001). Zeman (2001) menguraikan bahwa kata consciousness berasal dari bahasa Latin conscio yang dibentuk dari kata cum yang berarti with (dengan) dan scio yang berarti know (tahu). Kata menyadari sesuatu (to be conscious of something) dalam bahasa Latin pengertian aslinya adalah membagi pengetahuan tentang sesuatu itu dengan orang lain atau diri sendiri. Kata conscious (sadar) dan consciousness (kesadaran) pertama kali muncul dalam bahasa Inggris awal abad 17 (Lewis, 1960 seperti dikutip Zeman, 2001). Kesadaran digambarkan sebagai keadaan mental yang berisi dengan halhal proposisional, seperti misalnya keyakinan, harapan, kekhawatiran, dan keinginan.
            Chalmers (1995) menggolongkan permasalahan kesadaran menjadi dua, yaitu permasalahan mudah (easy problems) dan permasalahan sukar (hard problem). Permasalahan mudah kesadaran berkaitan dengan masalah yang secara langsung dapat dipecahkan oleh metode baku ilmu pengetahuan kognitif. Permasalahan kesadaran yang tergolong mudah itu antara lain adalah (a) bagaimana seseorang melakukan pembedaan stimulus sensoris dan bereaksi secara tepat terhadap stimulus tersebut, (b) bagaimana otak memadukan informasi yang berasal dari berbagai sumber berbeda dan kemudian menggunakan informasi tersebut untuk mengendalikan perilaku, (c) bagaimana seseorang mampu melaporkan kondisi internalnya sendiri, (d) bagaimana kemampuan satu sistem untuk mengakses kondisi internalnya sendiri, (e) bagaimana soal pemusatan perhatian, (g) bagaimana membedakan antara kondisi bangun dengan tidur. Gejalagejala kesadaran semacam itu dapat dijelaskan oleh mekanisme komputasional dan neural. Meskipun gejala kesadaran diatas bukan masalah sepele, kemajuan psikologi kognitif dan neurosains diharapkan dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan tersebut (Chalmers, 1995).
            Hipnosis menurut psikoanalisis adalah keadaan regresi sebagian diamana subjek kekurangan kendali dalam kesadaran yang nyata dan karenanya bertindak secara impulsive dan terlibat dalam perbuatan fantasi (Gill,1972). Menurut Kirsch dan Lynn (1995), hipnosis adalah sebuah prosedur dimana seorang praktisi mengsugestikan perubahan sensasi, persepsi, pikiran, perasaan, atau perlaku dari subjek.
Sejak dulu, obat- obatan telah digunakan untuk mendapatkan efek psikologisnya. Seperti mengubah kognisi dan emosi dengan mempengarui neurotransmitter dalam otak. Obat- obatan memiliki efek psikologi disebut sebagai psikoaktif. Psikoaktif memiliki beberapa kegunaan diantaranya stimulan sebagai obat- obatan peningkat, depresan sebagai obat- obatan penurun, narkotika untuk mengurangi rasa sakit dan kecemasan, dan Halusinogen sebagai obat Psychedelic.
HIPNOSIS

Kata "hipnosis" pertama kali diperkenalkan oleh James Braid, seorang dokter ternama di inggris yang hidup antara tahun 1795 - 1860. Sebelum masa Jame Braid, hipnosis dikenal dengan nama Mesmerism/Magnetism. Hypnos atau dewa tidur Yunani, namun studi fisiologi otak mengungkapkan bahwa hipnosis pasti tidak tidur.
Hipnosis adalah keadaan sugestibilitas tinggi yang pada beberapa orang dapat mengalami duduk membayangkan seolah-olah mereka nyata. Hipnosis menarik karena banyak terapis menggunakannya dalam memperlakukan gangguan mental. Di Amerika Serikat, sekitar 25 persen Ph.D. program psikologi menawarkan kursus atau pelatihan dalam hipnosis (Walling et al., 1998). Dasar para ilmuwan, mengeksplorasi apakah hipnosis adalah keadaan yang unik dari gangguan kesadaran, dan menempatkannya dalam klaim tes yang ketat.
Hypnotic induction adalah proses dimana satu orang (seorang peneliti atau hipnotis) menuntun orang (subjek) dalam hipnosis. (Erik Woody & Pamela Sadler, 2016): Hipnosis biasanya melibatkan pengenalan prosedur dimana subjek diberitahu bahwa sugesti untuk pengalaman imajinatif akan disajikan. Induksi hipnosis adalah sugesti awal untuk menggunakan imajinasi seseorang, dan mungkin berisi elaborasi lebih lanjut dari pendahuluan. Induksi dapat memberikan isyarat penting tentang mode diharapkan memberlakukan sugesti dan sifat yang diharapkan dari perubahan interpersonal dalam hipnosis. Selain itu, induksi dapat memberikan meta-sugesti yang dapat meningkatkan respon setelah sugesti hipnotis dan juga dapat memberikan transisi yang jelas untuk membantu memungkinkan mode perilaku baru dan pengalaman baru muncul di hipnosis.
Hipnosis adalah salah satu pendekatan kesehatan komplementer dan diakui dalam pengobatan sebagai terapi yang efektif (Afife, 2014). Terapi hipnosis telah digunakan dalam dunia medis dan masalah psikiatrik. seperti gangguan kecemasan, depresi, terluka, stress and gangguan stress karena trauma (Mauro, 2014). Hipnosis merupakan keadaan mengubah kesadaran atau keadaan fokus untuk menginduksi stimulus verbal dari terapis (hetero-hipnosis) ataupun dari diri sendiri (self-hipnosis). Teknik hipnotis terbukti berguna bagi berbagai penyakit seperti luka bakar, kanker, masalah otot, dan lain sebagainya (Sheila, 2014). Hipnosis merupakan sugesti untuk perubahan dalam persepsi, sensasi, emosi, dan berpikir (Holger, 2015).

TEORI HIPNOSIS
Teori sosial-kognitif
Untuk teoretikus lain, hipnosis tidak mewakili keadaan khusus disosiasi kesadaran. Sebagai gantinya, teori-teori sosial-kognitif mengusulkan bahwa pengalaman hipnotis hasil dari harapan orang-orang yang termotivasi untuk mengambil peran yang dihipnotis (Kirsch, 2001; Spanos, 1991). Kebanyakan orang percaya bahwa hipnosis melibatkan perpindahan kesadaran dan respon terhadap sugesti. Orang termotivasi untuk menyesuaikan diri dengan peran ini mengembangkan kesiapan untuk menanggapi sugesti hipnotis dan untuk memandang pengalaman hipnosis sebagai nyata dan sukarela.

Teori Disosiasi/Keadaan Kesadaran Yang Berbeda
            Perubahan dalam aktivitas elektris dalam otak diasosiasikan dengan hipnotis, mendukung pernyataan yang menyatakan bahwa hipnosis adalah keadaan kesadaran yang berbeda dari terjaga saat normal (Fingelkurts, Fingelkurts & Kalio, 2007; Hilgar, 1992; Kallio & Revonsou, 2003). Hipnosis melambangkan kesadaran yang terbagi. Menurut peneliti Hipnosis yang terkenal Ernest Hilgard, hipnosis menyebabkan disosiasi atau pembagian kesadaran ke dalam dua komponen yang simultan. Dalam satu aliran kesadaran, orang yang terhipnotis akan mengikuti perintah dari ahli hipnotis. Akan tetapi, dalam tingkat yang berlainan pada kesadaran, mereka berperilaku sebagai “observer yang tersembunyi”, mengetahui apa yang sedang terjadi pada diri mereka. Hipnosis telah diaplikasikan pada sejumlah area, termasuk di antaranya:



  1. Hypnotherapy / Clinical Hipnosis
Hypnotherapy atau Clinical Hipnosis adalah aplikasi hipnosis dalam menyembuhkan gangguan mental dan meringankan gangguan fisik. HIPNOSIS, tidak seperti cara pengobatan lain yang mengobati gejala (simptom) atau akibat yang muncul. Hynosis berurusan langsung dengan penyebab suatu masalah. Dengan menghilangkan penyebabnya maka secara otomatis akibat yang ditimbulkan akan lenyap atau tersembuhkan. Kita ambil contoh kasus Psikosomatis. Jika seseorang menderita psikosomatis misalnya nyeri punggung yang tak kunjung sembuh, dia bisa saja menggunakan obat penahan rasa sakit untuk menghilangkan rasa sakit di punggungnya. Namun hilangnya rasa sakit itu hanya sementara, setelah pengaruh obatnya hilang dia akan merasa sakit lagi dan meminum obat lagi. Ini sama sekali bukan penyembuhan. Orang tidak akan benar-benar sembuh dengan cara itu. Obat hanya akan melemahkan kita karena hidup kita menjadi tergantung dengan obat itu. Dengan hipnosis, psikosomatis bisa sembuh permanen dalam waktu sangat singkat.
  1. Medical and dental hipnosis
Yaitu penggunaan hipnosis untuk dunia medis, terutama oleh dokter ahli bedah dan dokter gigi dalam menciptakan efek anesthesia tanpa menggunakan obat bius. Teknik hipnosis yang digunakan untuk anestesi sudah digunakan oleh John Elliotson (1791 -1868). Elliotson adalah dokter yang pertama kali menggunakan mesmerisme (nama kuno dari hypnotism) untuk melakukan pembedahan tanpa rasa sakit. Catatan: pada masa itu belum ditemukan obat bius yang disuntikkan ataupun dihirup.
  1. Comedy hipnosis
Comedy hipnosis adalah hipnosis yang digunakan untuk hiburan semata. Comedy Hipnosis juga sering disebut sebagai Stage Hipnosis. Dinamakan stage hipnosis atau hipnosis panggung karena pada awalnya hipnosis untuk hiburan hanya diperankan di atas panggung. Namun Comedy Hipnosis sekarang tidak terbatas dalam panggung. Di jalan, taman, mall, kampus atau dimana saja Anda bisa mempraktekkan Comedy Hipnosis.Untuk mempelajari Comedy hipnosis sangat mudah. Anda hanya butuh waktu beberapa jam saja, dan sudah siap untuk terjun ke lapangan. Jika Anda pernah melihat acara stage hipnosis, mungkin Anda menjadi takut dengan hipnosis karena sepertinya seorang hipnotist bisa seenaknya mengendalikan subjek (orang yang dihipnotis).Sebenarnya tidak ada orang lain yang bisa mengendalikan Anda, kecuali Anda mengizinkan untuk dikendalikan.
  1. Forensic Hipnosis
Dalam penyelidikan kepolisian, hipnosis bisa digunakan untuk menggali informasi dari saksi. Suatu kejadian traumatis seperti dalam kasus kejahatan yang menakutkan cenderung membuat pikiran bawah sadar menyembunyikan ingatan yang lengkap tentang kejadian tersebut agar tidak bisa diingat oleh pikiran sadar. Tujuan pikiran sadar menyembunyikan informasi itu sesungguhnya untuk kebaikan diri sendiri, karena apabila kejadian itu bisa diingat dalam kondisi sadar, maka rasa ketakutan akan sering muncul tanpa sebab. Dengan bantuan hipnosis, korban atau saksi bisa mengingat kembali dengan sangat jelas. Hipnosis tidak bisa digunakan untuk mendapatkan pengakuan yang jujur dari pelaku kriminal. Pertama karena pelaku kejahatan pasti akan menolak untuk dihipnotis, dan kedua dalam kondisi hipnosis, seseorang tetap bisa berbohong. Hipnosis berperan mengungkap kejahatan jika diterapkan kepada saksi atau korban. Dengan teknik regresi atau hypernesia, saksi atau korban kejahatan bisa menceritakan dengan sangat rinci tentang peristiwa yang pernah dialaminya.
  1. Metaphysical Hipnosis
Metaphysical hipnosis adalah aplikasi hipnosis dalam meneliti berbagai fenomena metafisik seperti Out of Body Travel, ESP, Clairvoyance, Clairaudience, Komunikasi dengan inner-self, meditasi, mengakses kekuatan superconscious mind dan eksperimen-eksperimen metafisika lainnya. Kebetulan kami kurang tertarik untuk mengembangkan Metaphysical Hipnosis. Dengan kata lain, kami bukan tempat bertanya yang tepat apabila anda punya pertanyaan tentang manfaat hipnosis untuk hal-hal metafisik tersebut.

PENGALAMAN HIPNOTIS
Orang yang terhipnosis perhatiannya terfokus pada suara penghipnosis, kemudian berbicara dan terbuai dalam keadaan sadar yang telah berubah. Tahap ini berbeda setiap individu tetapi kebanyakan memiliki karakteristik sebagai berikut :
1.      Relaksasi, rasa relaksasi yang mendalam dan rasa kedamaian, sering disertai perubahan rasa pada tubuh. Seperti melayang, tenggelam dan menyusut.
2.      Halusinasi Hipnotis : ketika di hipnosis, subjek melihat, merasakan, atau mendengar hal hal yang menyimpang dari biasanya bahkan hal hal yang tidak ada. Seperti mencium bau bunga yang tidak ada.
3.      Analgesia hipnotis. Subjek kehilangan rasa ketika disentuh atau kehilangan rasa sakit di daerah tubuhnya.
4.      Regresi usia hipnotis. Subjek dapat dibuat untuk merasakan bahwa dia kembali ke masa lalu, seperti masa kanak-kanak. Tidak diketahui apakah individu menjalani regresi usia dan mengingat kejadian yang terlupakan, tetapi proses ini sering terjadi pada subjek.
5.      Kontrol hipnotis. Perilaku individu yang terhipnosis kadang terlihat seperti kehilangan kontrol diri. Ketika dikatakan bahwa lengannya dapat melayang, lengan orang yang terhipnotis tersebut akan terlihat melayang seperti diangkat oleh balon yang tak terlihat.



OBAT- OBATAN YANG MEMPENGARUHI KESADARAN
Stimulan: Obat-obatan Perangsang
  • Amfetamin
Amfetamin merupakan psikotropika golongan II yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan (Sulastri, 2013).
  • Kokain
Kokain didepresikan dari daun semak koka,yang terutama ditemukan di Perudan Bilovia. Selama berabad-abad,ekstrak mentah yang disebut pasta koka telah dibuat secara langsung dari daunnya dan dimakan. Laporan para pemakain banyak menyebutkan tentang gelombang perasaan nyaman (wave of wellbeing),mereka merasa percaya diri ramah, bersahabat, gelisahdan berbicara ngelantur serta mereka mamiliki keinginan yang rendah disbanding biasanya untuk makan dan tidur (Pinel, 2007).
  • Nikotin
Nikotin adalah obat yang sangat adiktif sehingga bisa menyebabkan kecanduan. Seperti amfetamin dan kokain, nikotin bertindak di otak dan menciptakan perasaan senang atau kepuasan (Noha Ahmed 2015). Ketika seseorang telah mengalami ketergantungan pada nikotin, maka saat withdrawal (putus zat) individu tersebut akan mengalami perasaan tidak nyaman seperti cemas, merasa tertekan, sulit mengendalikan diri atau mudah marah, mudah putus asa, dan depresi. Gangguan emosi dan perilaku pada pecandu rokok juga erat kaitannya dengan perubahan aktivitas dan fungsi otak. Penelitian tentang pengaruh nikotin terhadap kinerja otak hampir selalu menggunakan metode neuroimaging (Andrian, 2010).

Depresan: Obat-obatan Penurun
  • Alkohol
Depresan yang paling umum adalah alkohol. Alkohol diklasifikasikan sebagai depresan karena pada dosis moderat sampai tinggi alkohol meneka penembakan neural,namun pada dosis rendah alkohol dapat menstimulasi penembakan neural dan memfasilitasi interaksi social. Dosis tinggi menyebabkan hilangnya kesadaran dan bila kadar dalam darah mencapain 0.5% ada resiko kematian akibat depresi respiratorik (Pinel, 2007).
Konsentrasi alkohol dalam darah dapat mempengaruhi mitokondria dalam malakukan metabolism. Asetaldehida dan asetat yang dihasilkan dari proses ini dalam jumlah besar dapat menyebabkan terjadinya penggunaan glukosa oleh otak. Pembentukan asetaldehida dan asetat berlebih terjadi pada pengguna alkohol kronis (Manzo, 2010).
Konsumsi alkohol kronis menghasilkan kerusakan otak ekstensif. Kerusakan ini dihasilkan secara langsung dan tidak langsung. Contoh penyakit yang secara langsung menyebabkan syndrome korsakoff (gangguan neuropsikologis yang ditandai oleh kehilangan ingatan, disfungsi sensorik dan motorik serta demensia berat) (Pinel, 2007). Hasil pengamatan de Wardener dan lennox (1947) di malnutrisi, telah diketahui bahwa penipisan tiamin merupakan mekanisme yang menimbulkan syndrome korsakoff (Kopelman, 2009).
Untuk mengobati kecanduan kini digunakan senyawa kurkawan yang dapat mengurangi laju kerusakan sel atau jaringan atau organ oleh konsumsi alkohol. Penggunaan resuratrol membawa dampak perlindungan pada otak, ginjal dan jantung karena meningkatkan pertumbuhan jumlah mitokondria (Manzo, 2010).



Narkotika: Mengurangi Rasa Sakit dan Kecemasan
Narkoba (Narkotika dan obat- obatan berbahaya) mempunyai istilah-istilah lain yang juga sering digunakan seperti zat adiktif, zat psikoaktif, zat psikotropika (Yatin, 1991). Menurut Yatin 1991 yang dimaksud obat psikoaktif adalah jenis zat yang dapat mengubah pikiran dan perasaan karena pengaruhnya secara langsung terhadap susunan saraf pusat ( otak dan susum tulang belakang).
Penyalahgunaan narkoba sendi secara biologis data mempengaruhi fungsi seksual (Wincze dkk, 1991). Ada beberapa jenis narkoba yang merangsang nafsu seksual. Kokain, mariyuana, brauer adalah perangsang seksual , amfetamin dapat meningkatkan reaksi seksual ( Master,1985) bila digunakan dalam dosis rendah. Temuan tersebut dapat diartikan bahwa para penyalahguna ketiga jenis narkoba tersebut akan cenderung melampiaskan nafsu seksualnya setelah menggunakan (Agnes, 2000).

Halusinogen: Obat-obatan Psychedelic
  • Mariyuana
Mariyuana (ganja) merupakan nama  lazim diberikan kepada daun dan bunga yang dikeringkan dari Cannabi Sativa (semacam pohon rami). Mode umum konsumsinya adalah dengan menghisap daunnya dalam bentuk joint (lintingan mariyuana) atau dengan menggunakan pipa, tetapi mariyuana juga efektif bila dipakai secara oral, mula- mula dipanggang dalam substratkaya minyak, missal sebagai browine coklat, untuk membantu penyerapan dari traktus gastrointestinal (Pinel, 2007).





Disusun oleh : Kelompok 3

Nabila, Whisnu, TataYunanda.



DAFTAR PUSTAKA

1.                                 Ardigo, Sheila, dkk., Hipnosis can reduce pain in hospitalized older patients: a randomized controlled study : Ardigo et al. BMC Geriatrics, 2016, DOI 10.1186/s12877-016-0180-y.
2.                                 Avalos, Salvador Manzo &  Molina, Alfredo Saavedra. Cellular and Mitochondrial Effect of Alkohol Consumption. Int.j.Environ. Res.Public Health, 2010, 7, 4281- 4303, DOI: 10.3390/ijerph7124281.
3.                                 Cozzolino, Mauro , dkk.,   A bioinformatic analysis of the molecular-genomic signature of therapeutic hipnosis : The International Journal of Psychosocial and Cultural Genomic ,  2014, Vol. 1 No. 1.
4.                                 Cramer, Holger, dkk. Hipnosis in Breast Cancer Care: A Systematic Review of Randomized Controlled Trials. Integrative Cancer Therapies, 2015, Vol. 14(I) 5- 15, DOI: 10.1177/153735414550035.
5.                                 Guly,HR. Use and abuse of alkohol and other drugs during the heroic age of Antarctic exploration. Derriford Hospital, plymounth, 2012, Vol. 24(I) 94- 105, DOI: 10.1177/0957154X12450139.
6.                                 Hastjarjo, Dicky. Sekilas Tentang Kesadaran (Consciousness): Buletin Psikologi, 2005,Volume 13, No. 2.
7.                                 Kabalak, Afife Alyla, dkk. Clinical Hipnosis for Symtom  Management of Cancer Patients in Palliative Care. Anarka Ulus State Hospital, Anarka, Altindag, Turkey, 2014, http://dx.doi.org/10.4172/2165-7386.1000181.
8.                                 Kopelman, Michael D,dkk. The Korsakoff Syndrom: Clinical Aspects, Psychology and Treatment. Alkohol & Alkoholism, 2009,Vol. 44, No. 2, pp. 148- 154.
9.                                 Lahey, Benjamin B, Psychology an Introduction second edition, United State of America : Wm. C. Brown Publisher, 1986.
10.                             Lestari, Sulastri Indah, Strategi Badan Narkotika Nasional Kota Samarinda Dalam Menanggulangi Penggunaan Narkoba di Kelurahan Sungai Pinang Dalam Kota Samarinda: Ejournal Ilmu Pemerintah, 2013, I (2):943-955, ISSN :2338-3651.
11.                             Liem, Andrian, Pengaruh Nikotin terhadap Aktivitas dan Fungsi Otak serta Hubungannya dengan Gangguan Psikologis pada Pecandu Rokok: BULETIN PSIKOLOGI, 2010, VOLUME 18, NO. 2, 37 – 50, ISSN: 08547108.
12.                             Mesman, Glenn.R. The Relation Between ADHD Symptoms and alkohol Use in Collage Students.Journal of Attention Disorders, 2015, Vol. 19 (8) 694- 702, DOI: 10.1177/1087054713498931.
13.                             Mohamed, Noha Ahmed dan ElMwafie, Seham Mohamed. Effect of Hypnotherapy on smoking cessation among secondary school students.Faculty of Nursing, Beni- Suef University,Beni Suef, Egypt, 2014, Vol. 5, No.2, DOI: 10.5430/jnep.v5n2p67.
14.                             Passer, Michael W dan Smith, Ronald E, Psychology The Science of Mind and Behaviour, New York : Mc Graw-Hill, 2008.
15.                             Pinel, John P. J, Biopsikologi Edisi Ketujuh, terj. Helly, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2015, ISBN : 978-602-8300-75-9.
16.                             Purnomowardani, Agnes Dewanti & Koentjoro. Penyingkapan diri, perilaku seksual, dan penyalahgunaan narkoba: Jurnal Psikologi, 2000, No. 1, 60-72.
17.                             Sulliivan, Edith V, dkk. Alkohol’s Effect on Brain and Behavior. Neuropsychological Sequelae of Alcololism, 2010, Vol. 33, Nos. 1 and 2.
18.         Woody, Erik & Sadler,Pamela.What Can a Hipnotic Induction Do?. American Journal of Clinical Hipnosis, 2016, DOI: 10.1080/00029157.2016





Disusun oleh : Kelompok 3

Nabila, Whisnu, TataYunanda.

Friday, 16 June 2017

Memimpikan hal indah itu adalah kebiasaan yang mudah dilakukan
Tetapi membayangkan kegagalan meraih cita itulah kepahitan yang tak nyata
Menunggu setelah proses adalah hal yang penuh teka-teki
Tidak lain tidak bukan kekhawatiran yang seolah akan menoreh duka atau suka
Membiarkan waktu yang akan mencatat rangkaian kehidupan
Ternyata butuh tekad kuat nan ikhlas bukan hanya sekedar keberanian jiwa
Menentukan langkah apa, kapan, dimana, mengapa, siapa, dan bagaimana yang terlihat begitu rumit
Teruslah bersabar, berusaha penuh harap, dan berdoa tiada henti
Semua yang akan menjadi hak dan milikmu itu nyata dari Ridho-Nya.


By: Tata :)